Drama IP Bermasalah, Mahasiswa Harus Bagaimana?



Akhir-akhir ini, kita diramaikan dengan kenyataan degradasi moral mahasiswa. Suatu kondisi yang menghawatirkan masa depan bangsa, karna mahasiswa lah yang katanya berperan sebagai "iron stock", tumpuan dan harapan masa depan. Namun pada kenyataaannya, kini "iron stock" itu tercemar. Tercemar akan moralitas yang semakin hari semakin tergusur dan runtuh. Salah satunya adalah dalam penghormatan terhadap dosen. 

Pekan pengisian nilai semester telah dilalui. Ada yang riang gembira karna mendapat nilai yang sesuai ekspektasi. Disislain, ada juga yang kecewa dan lalu bermuram durja karna ternyata hasil yang diimpikan tak sesuai kenyataan.  “Jauh panggang daripada api”, begitulah orang tua menyebutnya. Sebagian mahasiswa kemudian memutuskan mengubungi bapak/ibu dosen perihal nilai yang ada, ada yang mampu beretorika dengan bahasa yang indah, namun sebagian lagi dengan bahasa seadanya, yang pada akhirnya menyinggung perasaan.  Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap sebagaimahasiswa?. . 

Sheikh Az-Zarnuji dalam kitabnya "Ta’limul Muta’allim" menerangkan beberapa adab terhadap guru/dosen, dinataranya adalah tidak bertanya kepada dosen saat dosen sedang capek atau bosan, sorang murid harus menjaga kerealaan hati guru, menjauhi hal-hal yang menyebabkan guru marah, mematuhi perintahnya asal tidak bertentagan dengan agama, dan jangan menyakiti hati guru karna ilmu yang kita pelajari tidak akan berkah. 

Bertanya akan nilai terhadap dosen boleh-boleh saja selama dalam koridor sesuai syariat, setidaknya sesuai dengan tata cara yang diajarkan oleh Sheikh Az-Zarnuji diatas. Seperti, memperhatikan waktu dalam bertanya kepada dosen, tidak pada jam istirahat (malam) sehingga mengganggu dosen yang sedang capek, juga tidak pada hari-hari libur, sehingga mengganggu waktu dosen yang semestinya dihabiskan dengan keluarga.  Kemudian menjauhi kata-kata yang dapat membuat dosen marah dan menyakiti hati, gunakanlah kata-kata yang sopan dan halus, jangan terkesan terlalu ambisius dan seakan menyalahkan dosen karna nilai yang didapat tak sesuai harapan. Bahkan jika perlu, mintalah koreksi dari teman terhadap kalimat yang akan dsampaikan terhadap dosen. 

Lebih penting dari itu, nilai yang ada seharusnya menjadi bahan muhasabah diri yang utama, bukan pemuas ambisi semata. Adanya nilai yang kurang memuaskan seharusnya ditanggapai dengan arif dan bijak oleh mahasiswa. Lebih baik merenungkan diri atas apa yang terjadi daripada sekedar menuntut sesuatu yang memang bukan hak kita, menuntut nilai yang baik padahal usaha tak maksimal. Dengan adanya nilai yang kurang memusakan mesitinya menjadi momentum bagi kita untuk berubah menjadi lebih baik, sadar atas kekurangan dan kelemahan diri, bukankah dosen menberi nilai atas variabel-variabel yang jelas?.

Pembaca yang budiman, dalam memberikan nilai, para dosen setidaknya memiliki tiga variabel utama. Variabel tersebut ialah Tugas, Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Untuk mendapatkan nilai yang maksimal, maka mahasiswa harus mampu memaksimalkan potensi yang ada untuk tampil sebaik mungkin ditiga variabel penilaiaun tersebut. Berikut tips agar dapat meraih nilai maksimal

Pertama, kerjakan tugas semaksimal mungkin. Jangan asal selesai dan kumpul. Tapi pastikan bahwa tugas dikerjassan dengan baik dan benar. Tugas dikerakan dengan baik, perhatikan apakah tulisan kita dapat dibaca dengan cermat, atau malah membuat mata sakit, jangan merepotkan dosen untuk membaca tulisan-tuisan yang seperti cacing kepanasan. Kemudian yakinkan bahwa tugas dikerjakan dengan benar, jawaban dibuat dengan bener, jika bingung atau ragu maka tanyakan kepada teman atau kakak tinggat yang lebih faham. 

Kedua, pastikan bahwa UTS dan UAS dikerjakan dengan baik. Setiap pribadi memiliki cara belajar dan kemampuan belajar yang berbeda, maka kenali dirimu dan kau akan dapatkan hasil yang terbaik. Jika sudah tau bahwa masa ujian sudah dekat, maka belajarlah dengan sungguh-sungguh, pasikan dirimu memahami setiap seluk-beluk materi yang dipelajari. Temukan cara belajar terbaik, apakah siang, sore, atau ,malam, atau bahkan dini hari setelah tahajjud. Kemudia kenali potensi diri, apakah kita termasuk orang yang genius, dengan IQ diatas 140 yang dengan hanya sekali baca sudah faham semua materi, atau kita hanya manusia biasa yang perlu untuk membeca berkali-kali sampai akhirnya faham. Kenali dirimu, jika dirimu harus membaca sepuluh kali baru faham maka lakukanlah sepuluh kali, luangkan waktu yang banyak untuk belajar. Pastikan dirimu belajar sesuai kemampuan belajarmu, jika butuh waktu dua jam untuk belajar maka luangkan waktu dua jam untuk belajar, bukan sepuluh menit sebelum dosen masuk ke kelas. Bukankah untuk sekedar main HP dan ngobrol kita memiliki waktu? Maka sediakan waktu yang untuk belajar

Ketiga, jika semua usaha sudah dilakukan dengan maksimal, kita yakin tugas sudah dikerjakan dengan baik dan benar, belajar sudah maksimal sehingga yakin bahwa jawaban UTS dan UAS sudah benar, maka ada faktor ketiga yang akan bekerja. Faktor yang oleh Ibnu Taimiyah disebut sebagai "Qadarullah", atau yang oleh Adam Smith disebut dengan "The invisibel hand", atau dalam bahasaku adalah "keberuntungan" Pastikan kita mendapatkan faktor ketiga tersebut, berdoalah, kuatkan ibadah, minta restu ayah-ibu, sehingga takdir baik itu menghampiri kita.

Ketika usaha dan doa sudah maksimal, maka yakinlah nilai itu tak akan menghianati dirimu. Sederhananya saja, jika kita sudah maksimal memahami materi, maka kita  akan mampu menjawab soal ujian, dan ketika kita mampu menjawab soal ujian, maka nilai pasti bagus. Begitupun sebaliknya, ketika nilai tak sesuai harapan, berati ada yang salah dalam proses kita,  mungkin kita tidak mengumpulkan atau mengerjakan tugas dengan baik dan benar  atau nilai ujian kita kecil. Ketika nilai ujian kecil, berarti kita tidak faham materi, ketika kita tidak faham materi, berarti usaha tidak maksimal, dan ketika usaha tidak maksimal, jalanganlah menyalahkan siapun, termasuk hanya sekedar mengirimkan  SMS/WA kepada dosen untuk menanyakan nilai, karna kita pasti sudah tau, apakah jawaban kita benar atau salah berdasarkan keyakinan dalam menjawab soal. Karna ujian kita adalah essai, bukan pilihan ganda.

Semoga bermanfaat

Dari,

Anak dusun yang bersyukur bisa kuliah
Muhammmad Riswan.

IMPOR BERAS (LAGI), ADA APA DENGAN INDONESIAKU?


Muhammad Riswan
Ekonomi Pembangunan



Neraca berjalan atau current account adalah salah satu komponen neraca pembayaran yang menggambarkan selisih nilai ekspor dan impor, termasuk barang dan jasa. Dalam perhitungannya, current account akan menunjukkan apakah nilai ekspor impor suatu negara surplus atau defisit. Jika nilai ekspor lebih besar, maka nilai current account akan surplus, dan begitupun sebaliknya.
Kondisi current account akan sangat berpengaruh terhadap nilai tukar mata uang dalam negri terhadap mata uang asing. Jika current account defisit, maka permintaan akan mata uang lokal akan lebih sedikit karna mata uang asing lebih banyak diperlukan untuk membayar barang yang dibeli dari luar negri dan akibatnya nilai tukar mata uang dalam negri pun melemah. Sedangkan jika kondisi current account surplus, permintaan akan mata uang lokal akan bertambah karena negara lain harus membeli produk yang dibeli dengan mata uang lokal sehingga nilai tukar mata uang lokal akan meningkat.
Akhir-akhir ini, current account Indonesia berada di kondisi yang cukup mengenaskan. Current account kita tercatat berada diangka minus 8 milyar Dollar. Hal ini kemudian menjadi salah satu faktor utama terdepresiasinya nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp15.000 per US Dollar.
Alih-alih memperbaiki kondisi current account demi menyelamatkan nilai tukar rupiah, kini pemerintah kembali membuat kebijakan kontroversial. Teater kebijakan impor beras kembali ditampilkan oleh Mentri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Sementara itu, perum Bulog melalui Direktur Utamanya, Budi Waseso sudah memberikan konfrensi pers bahwa gudang Bulog penuh, apalagi banyak beras impor digudang Bulog yang tidak digunakan sama sekali, bahkan beras-beras itu sudah ada yang mengalami turun mutu akibat terlalu lama disimpan.  
Dari kondisi ini kita dapat melihat bagaimana keberpihakan pemerintah, apakah kepada para petani atau kepada para pemburu rente. Keadaan yang aneh ini cukup menjadi bukti bahwa rezim yang sedang berkuasa saat ini nampaknya tidak cukup memiliki keberanian untuk melawan para pemburu rente dan kekuasaan untuk berkata ‘tidak’ pada mereka. Rezim ini seakan linglung dengan janjinya untuk menolak impor pangan, linglung dengan tugasnya untuk melindungi rakyat kecil, dan linglung bahwa kebijakan ini akan di cap oleh rakyat sebagai kebijakan terbodoh yang pernah ada pada rezim ini.
Kebijakan blunder ini akan berakibat panjang dan menjadi kenangan ‘terindah’ untuk rezim yang sedang berkuasa. Pendapatan petani akan turun karna supply beras meningkat dan harga akan turun. Impor ini pun akan memperparah kondisi current account dan pada akhirnya ikut andil dalam menenggelamkan nilai tukar rupiah. Sungguh ada apa dengan Indonesiaku? 


Tulisan ini dibuat oleh mahasiswa ekonomi pembangunan semester tiga, tentu masih banyak kekurangan dan kesalahan disana-sini, maka dari itu penulis berharap saran dan koreksi dari para pembaca yang budiman.

Oh Rupiahku, Nasibmu Kini



Muhammad Riswan
Ekonomi Pembangunan 2017

Akhir-akhir ini rakyat disibukkan dengan isu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar yang menembus angka Rp15.000 per US dollar. Banyak kalangan mengutarakan kekhawatirannya terhadap efek melemahnya nilai tukar rupiah terhadap berbagai bidang perekonomian, mulai ancaman kenaikan harga hingga penggemukan hutang luar negri. Disisi lain, banyak juga yang berpendapat bahwa keadaan rupiah ini tidak sepatutnya dikhawatirkan, dan menggelari orang-orang yang berkomentar sebagai ekonom baru. Lalu apa yang sebernarnya terjadi terhadap rupiah, penyebab, dampak dan solusi yang harus diambil.
            Setiap harga suatu komoditi tentu dipengaruhi oleh demand dan supply dari komoditi tersebut, begitupun terhadap valuta asing. Nilai tukar dollar tentu dipengaruhi oleh demand dan supply dollar. Demand terhadap dollar dipengaruhi oleh impor, capital flight, speculative activity, serta intervensi dari bank sentral. Sedangkan supply terhadap dollar dipengaruhi oleh ekspor, capital inflow,speculative activity, dan intervensi bank sentral.
            Disisi ekspor dan impor, current account Indonesia mengalami defisit sebesar $8 billion, hal ini mendorong demand terhadap dollar dan kemudian melemahkan nilai tukar rupiah. Defisit neraca berjalan salah satunya disebabkan oleh kebijakan impor tidak jelas yang dilakukan oleh pemerintah. Impor beras ketika petani panen padi, dan impor garam sedangkan separuh wilayah Indonesia adalah lautan. Andai saja pemerintah tidak membuat kebijakan impor yang aneh, mungkin saja kondisi current account Indonesia tidak akan separah ini.
            Disisi capital inflow dan outflow, kebijakan pemerintah yang menumpuk hutang dengan dalih pembangunan kini mulai memberikan dampak negatif (walaupun menurut ekonom senior Prof. Rizal Ramli bahwa hutang Indonesia didominasi untuk penggunaan belanja pegawai, bukan pembangunan infrastruktur). Hutang yang dibawa masuk oleh pemerintah kedalam negri tersebut mulai mewajibkan kita untuk membayar bunganya dan bahkan hutang yang jatuh tempo. Kebutuhan akan dollar untuk membayar hutang inilah yang menguatkan demand terhadap dollar dan pada akhirnya melemahkan nilai tukar rupiah.
            Kita boleh saja menambah hutang, asalkan current account kita surplus dan surplus itu minimal cukup untuk memenuhi kebutuhan pembayaran hutang yang rutin dibayar oleh pemerintah. Namun sayangnya, current account kita devisit dan bahkan kita diwajibkan untuk membayar bunga hutang dan hutang jatuh tempo, sehingga demand terhadap dollar meningkat tajam. Hal inilah yang menyebabkan tergerusnya nilai tukar rupiah.
            Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar tentu memberikan dampak yang signifikan terhadap bangsa ini. Hutang Indonesia yang dihitung dengan satuan dollar tentu akan semakin membengkak, dan kewajikan kita untuk membayar bunga dan pokok hutang akan semakin berat. Harga-harga barang tentu akan meningkat, mengingat beberapa produk berasal daari impor, dan bahkan beberapa faktor input pun diimpor dari luar negri. Paling sederhana adalah harga tempe dan telor, kedelai yang menjadi bahan utama tempe diimpor dari Amerika dan pakan ternak untuk ayam petelor juga kita impor, hal ini tentu akan menyababkan kenaikan harga pada barang-barang ini dan barang barang lain yang terkait. Maka dapat kita simpulkan bahwa pendapat yang mengatakan depresiasi rupiah tidak akan berdampak terhadap ekonomi rakyat kecil adalah omong kosong.
            Lalu apa yang harus dilakukan demi menyelamatkan rupiah?. Adapun depresiasi rupiah disebabkan karna meningkatnya demand terhadap dollar, maka yang harus kita lakukan adalah menurunkan demand terhadap dolaar dan menguatkan supply terhadap dollar. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam jangka pendek adalah : mengurangi ketergantungan terhadap portopolio asing dan beralih ke pembiayaan domestik untuk menutupi defisit APBN; merestrukturisasi ekspor dari bahan menta ke barang jadi atau setengah jadi; dan mengembangkan industri hilir. Semua kebijakan ini akan berimpikasi pada menurunnya hutang dan memperbaiki keadaan current account Indonesia dan pada akhirnya dapat menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Adapun hal yang harus dilakukan dalam jangka panjang adalah mengontrol inflasi pada tingkat rendah; meningkatkan produktivitas dan memaksimalkan peluang ekspor; serta stabilitas ekonomi dan politik nasional. Sedangkan yang dapat kita lakukan sebagai warga negara adalah : menjual foregn assest yang kita miliki lalu membeli currency kita sendiri dan membeli produk-produk produksi dalam negri yang memungkinkan.
            Pada kesimpulannya, tergerusnya nilai tukar rupiah ini adalah blunder dari kebijakan pemerintah yang menumpuk hutang luar negri dan kebijakan impor yang tidak jelas. Maka dari itu, pemerintah sebaiknya menahan diri untuk tidak menambah hutang konsumtif kemudian menahan impor yang tidak perlu, serta berupaya memperbaiki current account Indonesia. Maka, Siapapun kita, baik pendukung pemerintah ataupun oposisi, harus kita akui saat ini rupiah sedang tidak baik-baik saja, dan mari bekerjasama untuk memperbaikinya.

Tulisan ini dibuat oleh mahasiswa ekonomi pembangunan semester tiga, tentu masih banyak kekurangan dan kesalahan disana-sini, maka dari itu penulis berharap saran dan koreksi dari para pembaca yang budiman.
           

Semangat Tahun Baru, Semangat Perubahan

TAHUN BARU, MOVE ON YUK!!!
Muhammad Riswan
Kebijakan Publik KAMMI AL QUDS UNSRI
Ekonomi Pembangunan 2017



“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  meninggalkan rumah pada malam hari tanggal 27 Shafar tahun 14 nubuwah menuju rumah rekan sejatinya, Abu Bakar Radhiyallahu Anhu, lalu berdua mereka meninggalkan rumah dari pintu belakang untuk keluar dari Mekkah secara tergesa-gesa sebelum fajar menyingsing. (Al-Mubarakhfury, 2007)

Hampir 14 abad telah berlalu, suatu fakta sejarah yang sampai saat ini membekas dan menanamkan semangat perjuangan serta perubahan pada pribadi setiap muslim. Suatu perjalanan menuju perubahan yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  dan para sahabat, meninggalkan harta dan tanah kelahiran demi satu tujuan yaitu hidup yang lebih baik dalam naungan islam. Kini, kita memperingati nafas semangat itu dalam tahun baru Hijriah, suatu momen yang harus dimaksimalkan oleh setiap muslim untuk menghitung diri lalu bertransformasi menjadi lebih baik. 

Tahun baru adalah awal baru, laksana seorang anak sekolah yang mengawali tahun ajaran baru dengan buku dan seragam baru, seorang muslim juga harus mengawali tahun baru dengan semangat dan dunia baru. Dunia baru yang lebih baik, lebih teratur, dan lebih islami. Sehingga seorang muslim dapat menjadikan dirinya sebagai pribadi yang beruntung, dimana hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.

            Tahun baru merupakan  momentum untuk “move on” dari berbagai permasalahan dan aktivitas yang menghabiskan waktu dan tenaga, namun tidak memberikan kebermanfaatan terhadap perkembangan diri. Meninggalkankan segala kegalauan yang selama ini membenam dihati menuju kehidupan yang lebih optimis, optimis dalam menghadapai masa depan dan tantangan baru. Sehingga momen tahun baru dapat menjadi momentum perubahan demi menjadikan diri ini lebih baik dan lebih berharga. 
Tahun baru juga merupakan momentum untuk “move up”. Move up dari zona nyaman menuju zona yang lebih menantang. Mengurangi “me time” yang non-produktif dan mengubahnya menjadi “our time” yang lebih produktif. Our time yang sudah seharusnya digalakkan dan diisi oleh aktivitas bersama yang mampu membawa diri ini move up menuju level yang lebih tinggi, yaitu manusia muslim yang bermartabat dan berprestasi.  

Maka, mari kita maknai tahun baru ini sebagai momentum perubahan. Momentum untuk move on and move up yang akan mengantarkan diri ini menjadi pribadi tangguh dan bermartabat. Yuk berubah, berubah jadi lebih  baik.  Semangat perubahan, semangat perbaikan

Dimana Seharusnya Kita Memposisikan Doa Dalam Usaha?



BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
“Doa dan Usaha”

Oleh : Muhammad Riswan

Assalamualaikum wr.wb

“...barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Alla akan mencukupkan (keperluan)nya”. (Qs. At-Talaq : 3)

Pembaca yang budiman, dalam kehidupan seringkali kita dihadapkan pada kondisi yang mengharuskan kita untuk memilih, sehingga kita menjadi galau dalam penentuan pilihan tersebut. Atau, kita dihadapkan pada kondisi yang sering disamakan dengan kondisi telur yang berada diujung tanduk. Suatu kondisi yang memaksa kita untuk bekerja dan berfikir ekstrakeras supaya tidak mengalami kegagalan.

Pada saat itulah sering kita dapati ucapan seperti “saya sudah berusaha dengan giat, tinggal berdoa saja”. Atau ucapan “bekerjalah dengan sekuat tenaga, lalu berdoa agar pekerjaanmu berhasil”. Ucapan-ucapan tersebut menggambarkan seakan-akan kita hanya mengingat Allah setelah kita mentok dengan usaha kita, atau kita hanya mengingat Allah setelah kita melakukan usaha saja. Lalu, benarkah hal tersebut?, Apa yang harus kita lakukan ?, dimanakah doa yang sebaiknya kita letakkan, diawal, ditengah, atau diakhir pekerjaan ?

pembaca yang budiman, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an surah At-Talaq ayat 2 yang artinya,
“barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya”.
Dari ayat tersebut dapat kita pahami bahwa dalam menghadapi suatu permasalahan, hal pertama yang harus kita lakukan adalah berserahdiri kepada Allah ta’ala. Karna dalam menghadapi masalah, yang pertama kita cari adalah jalan keluar untuk menghadapi masalah baru kemudian kita menyelesaikan masalah. Maka sudah sepatutnya kita dalam mencari jalan keluar dari suatu permasalahan haruslah mencarinya kepada yang maha memiliki yaitu Allah. Maka dari itu, doa atau berserah diri kepada Allah dalam menghadapi suatu permasalahan haruslah diletakkan diawal usaha kita.

Lalu, apakah doa dan sikap berserahdiri kepada Allah hanya kita lakukan diawal usaha kita dalam menghadapi permasalahan?, jawabannya tidak. Karna doa dan tawakal kepada Allah juga harus kita tempatkan ditengah-tengah usaha kita. Yaitu, ketika kita sedang berusaha maka disitulah kita harus berdoa dan berserahdiri kepada Allah ta’ala. Allah swt berfirman,
“apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung” (Qs. Al-Jumu’ah : 10).
Dari dalil diatas, dapat kita fahami bahwa sembari kita bertebaran mencari rezeki dimuka bumi, kita diperintahkan oleh Allah untuk banyak-banyak mengingatNya. Maka dapat disimpulkan bahwa doa dan sikap tawakkal kepada Allah juga harus kita letakkan ditengah-tengah usaha kita dalam memecahkan masalah.

Kemudian setelah kita berdoa dan berserah diri kepada Allah diawal dan ditengah-tengah usaha kita dalam menghadapi permasalahan, haruskah kita juga melakukan hal yang sama diakhir usaha kita? Maka awabannya ya. Allah swt berfirman, 
“maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakal” (Qs. Ali Imron : 159)
Pada ayat tersebut,  dapat diketahui bahwa Rasulullah saw dalam menentukan urusan politik, ekonomi, dan lain sebagainya, beliau melakukan musyawarah dengan para sahabat. Dan kemudian setelah dibulatkan tekad atau hasil dari musyawarah tersebut, rasulallah kemudian diperintahkan untuk bertawakal. Dari dalil diatas dapat kita pahami bahwa kita pun harus berdoa dan berserahdiri kepada Allah diakhir perjuangan kita dalam memecahkan masalah.

Pembaca yang budiman, dari uraian diatas dapat kita tarik benang merahnya bahwa kita harus bedoa dan bertawakal kepada Allah di awal, tengah, dan akhir dalam segala usaha yang kita lakukan. Ingatlah bahwa allah menjamin kehidupan hambanya yang bertawakal kepadanya. Sebagaimana sabda rasulullah,
“jika kamu berserahdiri kepada allah dengan sesungguhnya, pasti allah akan memberikan rizkimu sebagaimana Dia memberikan rizkinya burung, berangkat dipagi hari dengan keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang” (HR. Turmudzi).
Ingatlah kita harus senantiasa bertawal kepada allah yang maha menentukan nasib hambanya.

Wassalamu'alaikum wr.wb

Man Saara ala Dharbi Washola

Man Saara ala Dharbi Washola adalah pepatah Arab yang berarti barang siapa yang berjalan di jalannya, maka akan sampai pada tujuan.