Oh Rupiahku, Nasibmu Kini



Muhammad Riswan
Ekonomi Pembangunan 2017

Akhir-akhir ini rakyat disibukkan dengan isu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar yang menembus angka Rp15.000 per US dollar. Banyak kalangan mengutarakan kekhawatirannya terhadap efek melemahnya nilai tukar rupiah terhadap berbagai bidang perekonomian, mulai ancaman kenaikan harga hingga penggemukan hutang luar negri. Disisi lain, banyak juga yang berpendapat bahwa keadaan rupiah ini tidak sepatutnya dikhawatirkan, dan menggelari orang-orang yang berkomentar sebagai ekonom baru. Lalu apa yang sebernarnya terjadi terhadap rupiah, penyebab, dampak dan solusi yang harus diambil.
            Setiap harga suatu komoditi tentu dipengaruhi oleh demand dan supply dari komoditi tersebut, begitupun terhadap valuta asing. Nilai tukar dollar tentu dipengaruhi oleh demand dan supply dollar. Demand terhadap dollar dipengaruhi oleh impor, capital flight, speculative activity, serta intervensi dari bank sentral. Sedangkan supply terhadap dollar dipengaruhi oleh ekspor, capital inflow,speculative activity, dan intervensi bank sentral.
            Disisi ekspor dan impor, current account Indonesia mengalami defisit sebesar $8 billion, hal ini mendorong demand terhadap dollar dan kemudian melemahkan nilai tukar rupiah. Defisit neraca berjalan salah satunya disebabkan oleh kebijakan impor tidak jelas yang dilakukan oleh pemerintah. Impor beras ketika petani panen padi, dan impor garam sedangkan separuh wilayah Indonesia adalah lautan. Andai saja pemerintah tidak membuat kebijakan impor yang aneh, mungkin saja kondisi current account Indonesia tidak akan separah ini.
            Disisi capital inflow dan outflow, kebijakan pemerintah yang menumpuk hutang dengan dalih pembangunan kini mulai memberikan dampak negatif (walaupun menurut ekonom senior Prof. Rizal Ramli bahwa hutang Indonesia didominasi untuk penggunaan belanja pegawai, bukan pembangunan infrastruktur). Hutang yang dibawa masuk oleh pemerintah kedalam negri tersebut mulai mewajibkan kita untuk membayar bunganya dan bahkan hutang yang jatuh tempo. Kebutuhan akan dollar untuk membayar hutang inilah yang menguatkan demand terhadap dollar dan pada akhirnya melemahkan nilai tukar rupiah.
            Kita boleh saja menambah hutang, asalkan current account kita surplus dan surplus itu minimal cukup untuk memenuhi kebutuhan pembayaran hutang yang rutin dibayar oleh pemerintah. Namun sayangnya, current account kita devisit dan bahkan kita diwajibkan untuk membayar bunga hutang dan hutang jatuh tempo, sehingga demand terhadap dollar meningkat tajam. Hal inilah yang menyebabkan tergerusnya nilai tukar rupiah.
            Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar tentu memberikan dampak yang signifikan terhadap bangsa ini. Hutang Indonesia yang dihitung dengan satuan dollar tentu akan semakin membengkak, dan kewajikan kita untuk membayar bunga dan pokok hutang akan semakin berat. Harga-harga barang tentu akan meningkat, mengingat beberapa produk berasal daari impor, dan bahkan beberapa faktor input pun diimpor dari luar negri. Paling sederhana adalah harga tempe dan telor, kedelai yang menjadi bahan utama tempe diimpor dari Amerika dan pakan ternak untuk ayam petelor juga kita impor, hal ini tentu akan menyababkan kenaikan harga pada barang-barang ini dan barang barang lain yang terkait. Maka dapat kita simpulkan bahwa pendapat yang mengatakan depresiasi rupiah tidak akan berdampak terhadap ekonomi rakyat kecil adalah omong kosong.
            Lalu apa yang harus dilakukan demi menyelamatkan rupiah?. Adapun depresiasi rupiah disebabkan karna meningkatnya demand terhadap dollar, maka yang harus kita lakukan adalah menurunkan demand terhadap dolaar dan menguatkan supply terhadap dollar. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam jangka pendek adalah : mengurangi ketergantungan terhadap portopolio asing dan beralih ke pembiayaan domestik untuk menutupi defisit APBN; merestrukturisasi ekspor dari bahan menta ke barang jadi atau setengah jadi; dan mengembangkan industri hilir. Semua kebijakan ini akan berimpikasi pada menurunnya hutang dan memperbaiki keadaan current account Indonesia dan pada akhirnya dapat menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Adapun hal yang harus dilakukan dalam jangka panjang adalah mengontrol inflasi pada tingkat rendah; meningkatkan produktivitas dan memaksimalkan peluang ekspor; serta stabilitas ekonomi dan politik nasional. Sedangkan yang dapat kita lakukan sebagai warga negara adalah : menjual foregn assest yang kita miliki lalu membeli currency kita sendiri dan membeli produk-produk produksi dalam negri yang memungkinkan.
            Pada kesimpulannya, tergerusnya nilai tukar rupiah ini adalah blunder dari kebijakan pemerintah yang menumpuk hutang luar negri dan kebijakan impor yang tidak jelas. Maka dari itu, pemerintah sebaiknya menahan diri untuk tidak menambah hutang konsumtif kemudian menahan impor yang tidak perlu, serta berupaya memperbaiki current account Indonesia. Maka, Siapapun kita, baik pendukung pemerintah ataupun oposisi, harus kita akui saat ini rupiah sedang tidak baik-baik saja, dan mari bekerjasama untuk memperbaikinya.

Tulisan ini dibuat oleh mahasiswa ekonomi pembangunan semester tiga, tentu masih banyak kekurangan dan kesalahan disana-sini, maka dari itu penulis berharap saran dan koreksi dari para pembaca yang budiman.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar