Juara Pertama
Gerimis
dengan lembut membasahi bumi, nyanyian jangkrik sahut-menyahut laksana paduan
suara di suatu orkestra, dan azan berkumandang merdu dengan baitnya yang
bertalu-talu. Sepagi ini, keluarga kecil di ujung desa itu telah siap memulai
hari baru. Hari-hari pertama sekolah. Salah satu hari paling
membahagiakan bagi Ramadhan. Hari-hari
dimana mimpi-mimpinya bertemu. Petak-petak kelas, teman baru, kursi dan meja
yang bernyanyi reot ketika diduduki, dan tentu saja ada ibu guru dengan mistar
panjang di tangan kiri dan batang kapur di tangan kanannya.
Tahun
ini tak banyak siswa yang mendaftar di sekolah itu. Hanya dua belas
orang, ditambah dua anak yang tidak naik kelas, jadilah total empat belas anak
dalam satu angkatan. Enam anak perempuan dan sisanya laki-laki. Ramadhan duduk
di meja nomor dua, baris kedua dari kiri, di sebelah Kodir, teman yang baru
dikenalnya.
SDN
06 Indralaya Selatan adalah bangunan paling besar sekaligus paling tua di desa
itu. Entah sejak kapan dibangun, yang jelas, menurut cerita Mak, di sanalah dulu Mak mengenyam pendidikan untuk jenjang pertama sekaligus jenjang terakhirnya.
Artinya, sekolah itu sudah ada setidaknya ketika Mak masih seusia Ramadhan. Ada tujuh
petak ruangan, enam petak digunakan untuk kelas dan satunya digunakan sebagai
kantor serba semuanya. Tak ada UKS, ya jangankan UKS, toh bidan saja desa ini
tidak punya. Tidak ada lab komputer apa lagi Wi-Fi, jadi jangan harap bisa
nonton YouTube apalagi main Instagram di sini.
Sekolah
ini sangat sederhana. Satu guru untuk setiap kelas. Selain merangkap sebagai
wali kelas, mereka juga menjadi guru maha bisa. Dari mulai mengajar matematika, agama, hingga olahraga. Ah ya, pelajaran olahraga adalah yang
paling digemari semua siswa. Bagaimana tidak, pelajaran ini dimulai dari pagi
dan terus berlanjut hingga tanda pulang sekolah dibunyikan. Mungkin itu juga
salah satu rahasia kenapa anak-anak di desa ini tumbuh menjadi sehat dan kuat,
karena selain setiap hari harus berjalan kaki dengan jarak yang jauh, juga
karena pelajaran olahraganya yang sangat menyenangkan.
Jam
pelajaran olahraga yang sangat panjang itu biasanya digunakan untuk bermain
sepakbola. Tidak ada lapangan khusus, gawang, apalagi instruktur. Anak-anak
dibebaskan bermain sesuka hatinya. Membangun gawang dari tumpukan sepatu hingga
mandi ke sungai ketika jam olahraga adalah hal yang selalu dilakukan. Khusus
pelajaran olahraga, ada banyak kisah yang akan selalu dikenang. Selain karena
jam pelajarannya yang sepenuh hari, mata pelajaran olahragalah yang memberikan
inspirasi bagi kebanyakan siswa di sekolah ini. Edi misalnya, ia bercita-cita
menjadi pemain sepakbola seperti Bambang Pamungkas, atau Fikri yang
bercita-cita menjadi kiper hebat seperti Ferry Rotinsulu. Sedangkan Ramadhan,
ia hanya memiliki mimpi untuk terus sekolah, setinggi-tingginya dan
sejauh-jauhnya. Tak ada hal yang lebih hebat baginya, kecuali menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang muncul di pikirannya.
Kesempatan menjalani pendidikan di sekolah itu sungguh
dimanfaatkan Ramadhan sebaik mungkin. Hari-hari setelah ini akan menjadi masa
yang penuh dengan pertanyaan. Rasa ingin tahu yang tinggi dan ketekunan dalam
belajar menjadikan Ramadhan berbeda dengan teman-temannya yang lain.
Pernah suatu
ketika saat pelajaran agama. Bu Guru memberi tugas rumah untuk menghafalkan
doa iftitah dan kemudian akan dites satu persatu. Seperti biasa, Bu Guru
berdiri di depan kelas dengan tangan kiri memegang mistar dan tangan kanan
memegang batang kapur. Satu persatu siswa dites, dan yang tidak bisa akan
dihukum berdiri di depan papan tulis dengan tangan kanan memegang kuping kiri
dan tangan kiri memegang kuping kanan, plus kaki kiri diangkat dengan menekuk
kebelakang. Satu per satu siswa yang dites tidak dapat membacakan hafalannya
dengan baik, dan harus menerima hukuman berdiri didepan. Sampai pada siswa ke
tiga belas, tak satupun dapat menyelesaikan hafalan doa iftitah dengan yang tentu saja membuat Bu Guru menjadi berang. Sampai akhirnya giliran
Ramadhan yang dites,
"Ramadhan, ayo maju. Caknyo kau jugo dak biso", kata Bu Guru dengan pesimis
“Dak
galak bu, aku pacak”, sergah Ramadhan, lalu kemudian membacakan hafalan doa iftitah dengan lacar.
Hari
itu menjadi permulaan bagi Ramadhan untuk menjadi berbeda dari teman-temannya.
Ia adalah satu-satunya
siswa yang bisa menyelesaikan tugas hafalan doa iftitah dengan baik.
Malamnya,
seperti biasa ditemani oleh lampu minyak, Ramadhan dan adiknya belajar di bawah
atap nipah yang satu dua mulai berlubang. Sehingga tak ayal ketika hujan tiba,
maka mereka harus menyiapkan nampan-nampan untuk mencegah air membasahi lantai
rumah. Ramadhan menceritakan kejadian di sekolah tadi, bahwa ketika dites oleh Bu Guru tentang hafalan doa iftitah, ia satu satunya yang bisa menyekesaikan
dengan baik. Ceritanya sederhana, namun memberikan kebahagiaan tak terkira untuk
kedua orang tua. Sambil mengelus kepala Ramadhan dan adiknya, Mak berpesan
untuk selalu rajin belajar.
“Belajar
itu harus yang tekun, jangan cepat puas”, Mak menjelasakan, “kalo yang lain
belajar satu jam sehari, maka kita harus dua jam”, lanjut Mak
“Kalau sudah SMP berarti aku harus
belajar tiga jam mak?” tanya Ramadhan penasaran, matanya yang bulat sayup-sayup
terlihat ditengah cahaya lampu minyak yang mulai redup.
Mak
menyeringai menatap wajah Ramadhan, sebenarnya ia tidak tau bagaimana siswa SMP
belajar karena ia sendiri hanya berkesempatan sekolah hingga tingkat dasar, “ya
intinya kau harus belajar lebih banyak dari biasanya”, jawab Mak sambil
mengelus kepala dua bocah kesayangannya.
Hari-hari awal di sekolah merupakan waktu yang sangat
menyenangkan. Betapa asyiknya mengenal angka, Ramadhan mulai menghitung angka
apapun yang ia lihatnya. Serunya bisa membaca, tulisan di kardus mie instan, di kotak
racun nyamuk, di bungkus permen dan semua tulisan yang tertangkap mata pun tak luput untuk dibacanya. Selain mendapatkan banyak teman dan pengalaman baru, energi-energi
yang selama ini tertahan untuk bertanya kini tersampaikan.
Waktu berlalu dengan cepat, sampai pada hari pembagian raporan
hasil belajar semester pertama. Para siswa diantar oleh orang tuanya,
sebagian ada yang sekedar mengantar sampai ke sekolah lalu kemudian pulang, dan
lebih banyak yang menunggu hingga prosesi pembagian laporan hasil belajar
selesai. Ramadhan sudah datang ke sekolah ketika hari masih sepi, baru satu dua orang yang
datang, juga Bik Yana, penjual makanan di kantin sekolah. Ya mereka menyebutnya
kantin, sebuah bangunan dengan satu meja yang di atasnya dibangun atap nari
nipah. Hari ini Bak harus ke sawah, ada banyak rumput yang harus dibersihkan,
juga Mak, selepas subuh ia sudah berangkat ke pabrik kemplang. Maka Ramadhan hanya
berangkat sendiri, pagi-pagi dengan berjalan kaki, menempuh tak kurang setengah
jam perjalanan.
Selain
membagikan laporan hasil belajar siswa, sekolah juga mengumumkan peraih juara
setiap kelasnya. Untuk kelas satu, juara ketiga diraih oleh Cecep, anak Mang
Kusam yang sawahnya bersebelahan dengan sawah Bak. Sedangkan juara kedua diraih
oleh Ages, anak kampung sebelah, dan juara pertama diraih oleh Ramadhan. Setiap
juara kelas diminta maju kedepan untuk menerima hadiah dari sekolah, walaupun
hanya selembar kertas bertuliskan selamat sebagai juara pertama dan terus
tingkatkan prestasimu, hadiah tetaplah hadiah, ia istimewa terlebih untuk
Ramadhan yang baru kali ini mengenal kata hadiah. Cecep dan Ages maju kedepan
ditemani oleh ibunya, sedangkan Ramadhan malu-malu melangkahkan kaki maju
sendirian.
Hari
ini, untuk pertama kalinya juara hadir di rumah kecil beratap nipah di ujung
desa itu. Kebahagiaan sederhana, bahwa seorang anak hadir sebagai harapan orang
tuanya atas janji-janji kehidupan yang lebih baik. Sebuah kalimat di piagam itu,
‘selamat sebagai juara pertama dan terus tingkatkan prestasimu’ akan selalu
diingat dan menjadi motivasi untuk selalu berkembang, hingga juara-juara
berikutnya akan terus mendatangi keluarga kecil nan bahagia itu.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar