Menggapai Matahari #4


Juara Pertama

Gerimis dengan lembut membasahi bumi, nyanyian jangkrik sahut-menyahut laksana paduan suara di suatu orkestra, dan azan berkumandang merdu dengan baitnya yang bertalu-talu. Sepagi ini, keluarga kecil di ujung desa itu telah siap memulai hari baru. Hari-hari pertama sekolah. Salah satu hari paling membahagiakan bagi Ramadhan. Hari-hari dimana mimpi-mimpinya bertemu. Petak-petak kelas, teman baru, kursi dan meja yang bernyanyi reot ketika diduduki, dan tentu saja ada ibu guru dengan mistar panjang di tangan kiri dan batang kapur di tangan kanannya.

Tahun ini tak banyak siswa yang mendaftar di sekolah itu. Hanya dua belas orang, ditambah dua anak yang tidak naik kelas, jadilah total empat belas anak dalam satu angkatan. Enam anak perempuan dan sisanya laki-laki. Ramadhan duduk di meja nomor dua, baris kedua dari kiri, di sebelah Kodir, teman yang baru dikenalnya. 

SDN 06 Indralaya Selatan adalah bangunan paling besar sekaligus paling tua di desa itu. Entah sejak kapan dibangun, yang jelas, menurut cerita Mak, di sanalah dulu Mak mengenyam pendidikan untuk jenjang pertama sekaligus jenjang terakhirnya. Artinya, sekolah itu sudah ada setidaknya ketika Mak masih seusia Ramadhan. Ada tujuh petak ruangan, enam petak digunakan untuk kelas dan satunya digunakan sebagai kantor serba semuanya. Tak ada UKS, ya jangankan UKS, toh bidan saja desa ini tidak punya. Tidak ada lab komputer apa lagi Wi-Fi, jadi jangan harap bisa nonton YouTube apalagi main Instagram di sini. 

Sekolah ini sangat sederhana. Satu guru untuk setiap kelas. Selain merangkap sebagai wali kelas, mereka juga menjadi guru maha bisa. Dari mulai mengajar matematika, agama, hingga olahraga. Ah ya, pelajaran olahraga adalah yang paling digemari semua siswa. Bagaimana tidak, pelajaran ini dimulai dari pagi dan terus berlanjut hingga tanda pulang sekolah dibunyikan. Mungkin itu juga salah satu rahasia kenapa anak-anak di desa ini tumbuh menjadi sehat dan kuat, karena selain setiap hari harus berjalan kaki dengan jarak yang jauh, juga karena pelajaran olahraganya yang sangat menyenangkan. 

Jam pelajaran olahraga yang sangat panjang itu biasanya digunakan untuk bermain sepakbola. Tidak ada lapangan khusus, gawang, apalagi instruktur. Anak-anak dibebaskan bermain sesuka hatinya. Membangun gawang dari tumpukan sepatu hingga mandi ke sungai ketika jam olahraga adalah hal yang selalu dilakukan. Khusus pelajaran olahraga, ada banyak kisah yang akan selalu dikenang. Selain karena jam pelajarannya yang sepenuh hari, mata pelajaran olahragalah yang memberikan inspirasi bagi kebanyakan siswa di sekolah ini. Edi misalnya, ia bercita-cita menjadi pemain sepakbola seperti Bambang Pamungkas, atau Fikri yang bercita-cita menjadi kiper hebat seperti Ferry Rotinsulu. Sedangkan Ramadhan, ia hanya memiliki mimpi untuk terus sekolah, setinggi-tingginya dan sejauh-jauhnya. Tak ada hal yang lebih hebat baginya, kecuali menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang muncul di pikirannya.

Kesempatan menjalani pendidikan di sekolah itu sungguh dimanfaatkan Ramadhan sebaik mungkin. Hari-hari setelah ini akan menjadi masa yang penuh dengan pertanyaan. Rasa ingin tahu yang tinggi dan ketekunan dalam belajar menjadikan Ramadhan berbeda dengan teman-temannya yang lain.

Pernah suatu ketika saat pelajaran agama. Bu Guru memberi tugas rumah untuk menghafalkan doa iftitah dan kemudian akan dites satu persatu. Seperti biasa, Bu Guru berdiri di depan kelas dengan tangan kiri memegang mistar dan tangan kanan memegang batang kapur. Satu persatu siswa dites, dan yang tidak bisa akan dihukum berdiri di depan papan tulis dengan tangan kanan memegang kuping kiri dan tangan kiri memegang kuping kanan, plus kaki kiri diangkat dengan menekuk kebelakang. Satu per satu siswa yang dites tidak dapat membacakan hafalannya dengan baik, dan harus menerima hukuman berdiri didepan. Sampai pada siswa ke tiga belas, tak satupun dapat menyelesaikan hafalan doa iftitah dengan yang tentu saja membuat Bu Guru menjadi berang. Sampai akhirnya giliran Ramadhan yang dites,

"Ramadhan, ayo maju. Caknyo kau jugo dak biso", kata Bu Guru dengan pesimis

“Dak galak bu, aku pacak”, sergah Ramadhan, lalu kemudian membacakan hafalan doa iftitah dengan lacar.

Hari itu menjadi permulaan bagi Ramadhan untuk menjadi berbeda dari teman-temannya. Ia adalah satu-satunya siswa yang bisa menyelesaikan tugas hafalan doa iftitah dengan baik. 

Malamnya, seperti biasa ditemani oleh lampu minyak, Ramadhan dan adiknya belajar di bawah atap nipah yang satu dua mulai berlubang. Sehingga tak ayal ketika hujan tiba, maka mereka harus menyiapkan nampan-nampan untuk mencegah air membasahi lantai rumah. Ramadhan menceritakan kejadian di sekolah tadi, bahwa ketika dites oleh Bu Guru tentang hafalan doa iftitah, ia satu satunya yang bisa menyekesaikan dengan baik. Ceritanya sederhana, namun memberikan kebahagiaan tak terkira untuk kedua orang tua. Sambil mengelus kepala Ramadhan dan adiknya, Mak berpesan untuk selalu rajin belajar. 

“Belajar itu harus yang tekun, jangan cepat puas”, Mak menjelasakan, “kalo yang lain belajar satu jam sehari, maka kita harus dua jam”, lanjut Mak

Kalau sudah SMP berarti aku harus belajar tiga jam mak?” tanya Ramadhan penasaran, matanya yang bulat sayup-sayup terlihat ditengah cahaya lampu minyak yang mulai redup. 

Mak menyeringai menatap wajah Ramadhan, sebenarnya ia tidak tau bagaimana siswa SMP belajar karena ia sendiri hanya berkesempatan sekolah hingga tingkat dasar, “ya intinya kau harus belajar lebih banyak dari biasanya”, jawab Mak sambil mengelus kepala dua bocah kesayangannya. 

Hari-hari awal di sekolah merupakan waktu yang sangat menyenangkan. Betapa asyiknya mengenal angka, Ramadhan mulai menghitung angka apapun yang ia lihatnya. Serunya bisa membaca, tulisan di kardus mie instan, di kotak racun nyamuk,  di bungkus permen dan semua tulisan yang tertangkap mata pun tak luput untuk dibacanya. Selain mendapatkan banyak teman dan pengalaman baru, energi-energi yang selama ini tertahan untuk bertanya kini tersampaikan.

Waktu berlalu dengan cepat, sampai pada hari pembagian raporan hasil belajar semester pertama. Para siswa diantar oleh orang tuanya, sebagian ada yang sekedar mengantar sampai ke sekolah lalu kemudian pulang, dan lebih banyak yang menunggu hingga prosesi pembagian laporan hasil belajar selesai. Ramadhan sudah datang ke sekolah ketika hari  masih sepi, baru satu dua orang yang datang, juga Bik Yana, penjual makanan di kantin sekolah. Ya mereka menyebutnya kantin, sebuah bangunan dengan satu meja yang di atasnya dibangun atap nari nipah. Hari ini Bak harus ke sawah, ada banyak rumput yang harus dibersihkan, juga Mak, selepas subuh ia sudah berangkat ke pabrik kemplang. Maka Ramadhan hanya berangkat sendiri, pagi-pagi dengan berjalan kaki, menempuh tak kurang setengah jam perjalanan. 

Selain membagikan laporan hasil belajar siswa, sekolah juga mengumumkan peraih juara setiap kelasnya. Untuk kelas satu, juara ketiga diraih oleh Cecep, anak Mang Kusam yang sawahnya bersebelahan dengan sawah Bak. Sedangkan juara kedua diraih oleh Ages, anak kampung sebelah, dan juara pertama diraih oleh Ramadhan. Setiap juara kelas diminta maju kedepan untuk menerima hadiah dari sekolah, walaupun hanya selembar kertas bertuliskan selamat sebagai juara pertama dan terus tingkatkan prestasimu, hadiah tetaplah hadiah, ia istimewa terlebih untuk Ramadhan yang baru kali ini mengenal kata hadiah. Cecep dan Ages maju kedepan ditemani oleh ibunya, sedangkan Ramadhan malu-malu melangkahkan kaki maju sendirian. 

Hari ini, untuk pertama kalinya juara hadir di rumah kecil beratap nipah di ujung desa itu. Kebahagiaan sederhana, bahwa seorang anak hadir sebagai harapan orang tuanya atas janji-janji kehidupan yang lebih baik. Sebuah kalimat di piagam itu, ‘selamat sebagai juara pertama dan terus tingkatkan prestasimu’ akan selalu diingat dan menjadi motivasi untuk selalu berkembang, hingga juara-juara berikutnya akan terus mendatangi keluarga kecil nan bahagia itu.


Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar