Masih ingatkah kita dengan harga jajanan lima hingga
sepuluh tahun yang lalu?. Kalau anda sekarang seorang mahasiswa, sepuluh tahun
yang lalu berarti masih duduk di bangku sekolah dasar. Sedangkan jika anda
sekarang masih SMA, berarti masa-masa di sekolah dasar sekitar lima hingga
delapan tahun yang lalu. Coba ingat-ingat berapa harga pempek atau model saat
itu, lalu kemudian bandingkan dengan harga pempek dan model saat ini. Pasti
terjadi kenaikan harga.
Kenaikan harga secara umum dan terus menerus itulah
yang didefinisikan sebagai inflasi. Syarat utama bahwa kenaikan harga dapat dianggap
sebagai inflasi adalah terjadi secara umum dan dalam waktu yang terus menerus. Terjadi
secara umum maksudnya bahwa kenaikan harga menyasar semua barang dan jasa,
umumnya adalah bahan-bahan sembako seperti beras, gula, cabai, minyak, dan
sebagainya. Sehingga, jika kenaikan harga hanya terjadi pada satu jenis barang
saja, maka tidak bisa disebut sebagai inflasi. Misalnya, terjadi musim panas
yang sangat kering sehingga banyak petani padi yang mengalami gagal panen. Karena
petani padi gagal panen, maka produksi padi menurun dan supply beras di pasar menjadi redah, nah hal ini kemudian
menyebabkan harga beras menjadi mahal. Karna kenaikan harga hanya terjadi pada
beras saja, maka hal ini tidak dapat dikatakan sebagai inflasi.
Syarat kedua yakni kenaikan harga terjadi secara terus
menerus. Kenaikan harga secara terus menerus bermakna bahwa harga-harga barang
mengalami kenaikan secara kontinu dalam suatu rentang waktu. Adapun penurunan
harga dapat terjadi namun akan diikuti oleh kenaikan harga setelahnya. Sehingga
jika dibuat grafik harga berdasarkan waktu maka akan didapatkan tren
peningkatan harga.
Inflasi secara umum terbagi menjadi tiga, yakni imported inflation, cost push inflation, dan demand
full inflation. Imported inflation
terjadi jika negara utama partner
perdagangan internasional mengalami inflasi. Misalnya, sumber impor negara A mayoritas
berasal dari negara B, maka ketika negara B mengalami inflasi yang besar,
barang-barang yang diimpor oleh negara A juga akan mengalami kenaikan harga,
sehingga negara A akan terdampak inflasi.
Inflasi kedua adalah cost push inflation, atau inflasi karena dorongan kenaikan harga
faktor-faktor produksi. Secara umum faktor-faktor produksi terbagi menjadi
empat, yakni tenaga kerja yang menghasilkan upah, modal yang menghasilkan
bunga, tanah yang menghasilkan sewa dan entrepreseurship
yang menghasilkan profit. Misalkan pada fungsi produksi sederhana,
faktor-faktor produksi yang digunakan hanya tenaga kerja dan modal. Kombinasi harga
dari tenaga kerja dan modal inilah yang akan menghasilkan harga pokok produksi
dan membentuk harga jual. Ketika harga antara tenaga kerja atau modal mengalami
peningkatan, maka harga pokok produksi juga akan meningkat dan menyebabkan
harga jual meningkat. Nah peningkatan harga jual inilah yang jika terjadi
secara umum dan terus menerus maka disebut sebagai inflasi.
Inflasi ketiga adalah demand full inflation. Inflasi ini terjadi karena tingginya permintaan
agregat yang tidak dapat diseimbangkan oleh
supply barang dan jasa. Atau secara matematika dapat ditulis dengan
AD>AS. AD>AS ini terjadi ketika jumlah uang beredar terlalu banyak dan
melebihi kebutuhan untuk transaksi (MS>MD), money supply lebih besar daripada money demand. Irving Fisher mengungkapkan persamaannya sebagai
berikut :
M.V = P.T,
Sehingga jika diubah menjadi fungsi harga maka,
P = (M.V)/T
M : Money
V : Velocity / kecepatan perputaran uang
P : Harga
T : Jumlah barang yang diperdagangkan.
Maka sederhananya, jumlah uang yang beredar harus
mencukupi kebutuhan untuk bertransaksi. Sehingga ketika jumlah uang beredar
lebih banyak daripada kebutuhan untuk transaksi, maka akan terjadi kenaikan
harga atau inflasi.
Inflasi jenis ketiga inilah yang sering terjadi. Sehingga
kebijakan moneter konvensional yang dilakukan oleh otoritas moneter (di
Indonesia dilakukan oleh Bank Indonesia) sebenarnya menuju satu arah, yakni mengendalikan
jumlah uang beredar. Beberapa instrumen kebijakan moneter konvensional seperti
kebijakan diskonto, giro wajib minimum, dan operasi pasar terbuka, arahnya adalah
untuk mengendalikan jumlah uang beredar. Ketika jumlah uang beredar terkendali
dengan baik, yakni terjadi keseimbangan antara jumlah uang dan kebutuhan untuk
transaksi, maka inflasi dapat terkendali.
Lalu bagiaman dengan kebijakan printing money? Ekonom Keynesian berpendapat bahwa printing money merupakan kebijakan
moneter yang sangat buruk karena akan menyebakan inflasi. Sedangkan ada teori
baru, yakni Modern Monetary Theory
yang berpendapat bahwa printing money
adalah solusi terbaik. Next kita akan
bahas tentang Modern Monetary Theory

Tidak ada komentar:
Posting Komentar