Presiden Joko Widodo, pada periode keduanya memimpin Indonesia tetap menjadikan pembangunan infrastruktur fisik sebagai ciri utama pemerintahan. Total dana yang dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur selama periode kedua berkisar diangka 4.700 T rupiah. Sedangkan kemampuan fiskal untuk menutupi kebutuhan tersebut hanya sebesar 400 T rupiah per tahun. Artinya, selama satu periode kepemimpian, kemampuan APBN untuk membangun infrastruktur hanya sebesar 2000 T. Lalu sisa 2.700 T bagaimana?
Dari total kebutuhan dana sebesar 4.700 T, pemerintah
pembaginya menjadi beberapa strategi. Pertama, 41,3% kebutuhan dana akan
diambil dari APBN. Angka ini adalah nominal murni sebelum ditambahkan dana
transfer daerah dan dana alokasi desa yang sebagian juga diwajibkan untuk
pembangunan infrastruktur. Kedua, sebesar 22% dari kebutuhan dana akan
dialokasikan oleh BUMN. Pemerintah berharap BUMN dapat mengambil peranan
penting dalam pembangunan infrastuktur fisik yang saat ini sedang digalakkan. Ketiga,
sisanya sebesar 36.7% akan dialihkan kepada kerjasama pembiayaan dari pihak
swasta.
Demi menutupi kebutuhan dana pembangunan, pemerintah
cenderung memilih untuk menggunakan skema hutang negara. Pertambahan hutang rata-rata
pada periode pertama kepemimpinan Presiden Joko Widodo sebesar 452 T per tahun,
sedangkan pertambahan hutang rata-rata per tahun selama periode kepemimpinan
Presiden SBY hanya sebesar 130.85 T.
Hutang merupakan cara praktis dalam mendapatkan dana
untuk proses pembangunan, namun demikian hutang memikili dampak buruk dalam
jangka panjang. Misalnya akan menjadi beban APBN dimasa depan, karena selain
harus membayar pokok hutang juga harus membayar bunganya. Terlebih jika hutang
digunakan untuk kebutuhan konsumtif yang tidak meningkatkan produktifitas,
tentu tidak akan berdampak banyak terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Lalu
apakah hutang untuk pembangunan infrastruktur adalah hutang produktif? ternyata
belum tentu. Jika dalam proses pembangunan infrastruktur bahan-bahan dan tenaga
kerja yang digunakan diperoleh dari impor, maka hutang tersebut tidak bisa
dikategorikan sebagai hutang yang produktif, karena tidak menghidupkan industri
dan menyerap tenaga kerja dalam negeri.
Pertanyaan selanjutnya, bisakah kita membangun
infrastruktur tanpa hutang sedangkan kemampuan APBN kita terbatas?. Jawabannya bisa,
namun tentu sangat diperdebatkan. Secara umum, para ekonom terbagi pendapatnya
menjadi banyak golongan. Ada yang menganut faham klasik, fasis, liberalis, Keynesian,
dan sebagainya. Tulisan ini akan menjabarkan salah satu pilihan strategi yang
dapat diambil oleh pemerintah dalam mengelola keuangan negara untuk memenuhi
kebutuhan pembangunan infrastruktur fisik.
Ada suatu pendekatan yang dapat diambil sebagai solusi
alternatif, yakni menggunakan Modern Monetary Theory. Para ahli Modern
Monetary Theory percaya bawah solusi yang dapat diambil untuk memenuhi
kebutuhan dana dalam pembangunan infrastruktur adalah dengan mencetak uang
berbasis proyek. Lalu bukankah printing
money merupakan kebijakan yang berbahaya?.
Betul bahwa printing
money merupakan kebijakan yang berbahaya dan tidak lazim diterapkan di
dunia. Para pemikir aliran Keynesian berpendapat bahwa printing money dapat
menyebabkan inflasi, karena jumlah uang yang beredar terlalu banyak. Negara yang
mengalami hyper inflasi akibat kebijakan dari printing money adalah Zimbabwe. Turunnya pasokan pangan di Negara ini
diatasi dengan kebijakan pencetakan uang untuk membiayai impor sehingga
banyaknya jumlah uang beredar memacu inflasi. Negara lain yang juga pernah
mengalami hyper inflasi karena kebijakan mencetak uang adalah Indonesia. Pada rentang
tahun 1963-1965, Indonesia mengalami hyper inflasi dengan puncaknya mencapai
600%, walaupun hal ini terjadi juga karena faktor ketidakstabilan politik,
kebijakan mencetak uang juga merupakan penyebab utama terjadinya hyper inflasi
di periode itu.
Pada artikel sebelumnya yang berjudul Bagaimana Inflasi Terjadi? kita
mengetahui bahwa inflasi terjadi karena jumlah uang beredar lebih banyak
daripada kebutuhan untuk melakukan transaksi atau money supply lebih besar daripada money demand. Jumlah uang beredar semestinya sesuai dengan jumlah
barang yang diperdagangkan P = (M.V)/T. Maka sebenarnya inflasi tidak akan
terjadi selama peningkatan jumlah uang beredar sejalan dengan peningkatan
produktivitas. Sehingga kebijakan printing
money dapat diambil dengan syarat harus terjadi peningkatan produksi
nasional yang setara.
Kebijakan printing
money based on proyek menggabungkan dua unsur penting. Yakni penambahan
jumlah uang beredar dan peningkatan produksi. Printing money based on proyek harus diikuti oleh pertumbuhan 12
lapis sektor perekonomian. Contoh, jika pemerintah ingin membangun industri
kain dengan pembiayaan yang berasal dari printing
money, maka yang harus disiapkan adalah 12 layer pendukung industri tersebut.
Enam layer dibawah seperti industry benang, wol, kapuk, kapas, tenaga kerja, dan
mesin produksi. Kemudian enam layer diatasnya seperti pabrik baju, celana, kancing,
resleting, mesin jahit, dan pewarna pakaian juga harus dibangun. 12 layer
pendukung industri kain harus dibangun di dalam negeri dan tidak ada satupun
bahan dalam proses industri kain yang diimpor. Begitupun jika diterapkan pada
pembangunan infrastruktur lainnya, syaratnya adalah harus diikuti oleh
pembangunan 12 layer industri pendukung dan semuanya harus diproduksi didalam
negeri, tidak ada yang impor. Maka, kebijakan printing money based on proyek tidak akan diikuti oleh inflasi,
karena baik dari sisi jumlah uang beredar maupun produktivitas akan sama-sama
meningkat, money supply = money demand.
Perlu diperhatikan bahwa hiyper inflasi di Zimbabwe dan Indonesia terjadi
karena kebijakan printing money digunakan
untuk kebutuhan konsumtif.
Kebijakan printing
money based on proyek juga akan mengarahkan Indonesia kepada New Economics Model. Kita tidak perlu
lagi untuk menambah hutang luar negeri, bahkan yang akan terjadi adalah
peningkatan produksi dalam negeri dan tentunya akan berimbas pada kapasitas
ekspor.
Kebijakan printing
money based on proyek tentu tidak lazim. Hal ini tidak didapatkan di
buku-buku perkuliahan kontemporer sehingga akan sangat diperbedatkan. Anda mungkin
juga memiliki pendapat yang berbeda, dan hal itulah yang menjadikan kita
semakin kaya akan khazanah ilmu pengetahuan. Demikianlah, lalu apakah printing money based on proyek bisa
menjadi solusi? mari kita renungkan bersama.
Bisa di coba 👍
BalasHapus