Drama IP Bermasalah, Mahasiswa Harus Bagaimana?



Akhir-akhir ini, kita diramaikan dengan kenyataan degradasi moral mahasiswa. Suatu kondisi yang menghawatirkan masa depan bangsa, karna mahasiswa lah yang katanya berperan sebagai "iron stock", tumpuan dan harapan masa depan. Namun pada kenyataaannya, kini "iron stock" itu tercemar. Tercemar akan moralitas yang semakin hari semakin tergusur dan runtuh. Salah satunya adalah dalam penghormatan terhadap dosen. 

Pekan pengisian nilai semester telah dilalui. Ada yang riang gembira karna mendapat nilai yang sesuai ekspektasi. Disislain, ada juga yang kecewa dan lalu bermuram durja karna ternyata hasil yang diimpikan tak sesuai kenyataan.  “Jauh panggang daripada api”, begitulah orang tua menyebutnya. Sebagian mahasiswa kemudian memutuskan mengubungi bapak/ibu dosen perihal nilai yang ada, ada yang mampu beretorika dengan bahasa yang indah, namun sebagian lagi dengan bahasa seadanya, yang pada akhirnya menyinggung perasaan.  Lalu bagaimana seharusnya kita bersikap sebagaimahasiswa?. . 

Sheikh Az-Zarnuji dalam kitabnya "Ta’limul Muta’allim" menerangkan beberapa adab terhadap guru/dosen, dinataranya adalah tidak bertanya kepada dosen saat dosen sedang capek atau bosan, sorang murid harus menjaga kerealaan hati guru, menjauhi hal-hal yang menyebabkan guru marah, mematuhi perintahnya asal tidak bertentagan dengan agama, dan jangan menyakiti hati guru karna ilmu yang kita pelajari tidak akan berkah. 

Bertanya akan nilai terhadap dosen boleh-boleh saja selama dalam koridor sesuai syariat, setidaknya sesuai dengan tata cara yang diajarkan oleh Sheikh Az-Zarnuji diatas. Seperti, memperhatikan waktu dalam bertanya kepada dosen, tidak pada jam istirahat (malam) sehingga mengganggu dosen yang sedang capek, juga tidak pada hari-hari libur, sehingga mengganggu waktu dosen yang semestinya dihabiskan dengan keluarga.  Kemudian menjauhi kata-kata yang dapat membuat dosen marah dan menyakiti hati, gunakanlah kata-kata yang sopan dan halus, jangan terkesan terlalu ambisius dan seakan menyalahkan dosen karna nilai yang didapat tak sesuai harapan. Bahkan jika perlu, mintalah koreksi dari teman terhadap kalimat yang akan dsampaikan terhadap dosen. 

Lebih penting dari itu, nilai yang ada seharusnya menjadi bahan muhasabah diri yang utama, bukan pemuas ambisi semata. Adanya nilai yang kurang memuaskan seharusnya ditanggapai dengan arif dan bijak oleh mahasiswa. Lebih baik merenungkan diri atas apa yang terjadi daripada sekedar menuntut sesuatu yang memang bukan hak kita, menuntut nilai yang baik padahal usaha tak maksimal. Dengan adanya nilai yang kurang memusakan mesitinya menjadi momentum bagi kita untuk berubah menjadi lebih baik, sadar atas kekurangan dan kelemahan diri, bukankah dosen menberi nilai atas variabel-variabel yang jelas?.

Pembaca yang budiman, dalam memberikan nilai, para dosen setidaknya memiliki tiga variabel utama. Variabel tersebut ialah Tugas, Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Untuk mendapatkan nilai yang maksimal, maka mahasiswa harus mampu memaksimalkan potensi yang ada untuk tampil sebaik mungkin ditiga variabel penilaiaun tersebut. Berikut tips agar dapat meraih nilai maksimal

Pertama, kerjakan tugas semaksimal mungkin. Jangan asal selesai dan kumpul. Tapi pastikan bahwa tugas dikerjassan dengan baik dan benar. Tugas dikerakan dengan baik, perhatikan apakah tulisan kita dapat dibaca dengan cermat, atau malah membuat mata sakit, jangan merepotkan dosen untuk membaca tulisan-tuisan yang seperti cacing kepanasan. Kemudian yakinkan bahwa tugas dikerjakan dengan benar, jawaban dibuat dengan bener, jika bingung atau ragu maka tanyakan kepada teman atau kakak tinggat yang lebih faham. 

Kedua, pastikan bahwa UTS dan UAS dikerjakan dengan baik. Setiap pribadi memiliki cara belajar dan kemampuan belajar yang berbeda, maka kenali dirimu dan kau akan dapatkan hasil yang terbaik. Jika sudah tau bahwa masa ujian sudah dekat, maka belajarlah dengan sungguh-sungguh, pasikan dirimu memahami setiap seluk-beluk materi yang dipelajari. Temukan cara belajar terbaik, apakah siang, sore, atau ,malam, atau bahkan dini hari setelah tahajjud. Kemudia kenali potensi diri, apakah kita termasuk orang yang genius, dengan IQ diatas 140 yang dengan hanya sekali baca sudah faham semua materi, atau kita hanya manusia biasa yang perlu untuk membeca berkali-kali sampai akhirnya faham. Kenali dirimu, jika dirimu harus membaca sepuluh kali baru faham maka lakukanlah sepuluh kali, luangkan waktu yang banyak untuk belajar. Pastikan dirimu belajar sesuai kemampuan belajarmu, jika butuh waktu dua jam untuk belajar maka luangkan waktu dua jam untuk belajar, bukan sepuluh menit sebelum dosen masuk ke kelas. Bukankah untuk sekedar main HP dan ngobrol kita memiliki waktu? Maka sediakan waktu yang untuk belajar

Ketiga, jika semua usaha sudah dilakukan dengan maksimal, kita yakin tugas sudah dikerjakan dengan baik dan benar, belajar sudah maksimal sehingga yakin bahwa jawaban UTS dan UAS sudah benar, maka ada faktor ketiga yang akan bekerja. Faktor yang oleh Ibnu Taimiyah disebut sebagai "Qadarullah", atau yang oleh Adam Smith disebut dengan "The invisibel hand", atau dalam bahasaku adalah "keberuntungan" Pastikan kita mendapatkan faktor ketiga tersebut, berdoalah, kuatkan ibadah, minta restu ayah-ibu, sehingga takdir baik itu menghampiri kita.

Ketika usaha dan doa sudah maksimal, maka yakinlah nilai itu tak akan menghianati dirimu. Sederhananya saja, jika kita sudah maksimal memahami materi, maka kita  akan mampu menjawab soal ujian, dan ketika kita mampu menjawab soal ujian, maka nilai pasti bagus. Begitupun sebaliknya, ketika nilai tak sesuai harapan, berati ada yang salah dalam proses kita,  mungkin kita tidak mengumpulkan atau mengerjakan tugas dengan baik dan benar  atau nilai ujian kita kecil. Ketika nilai ujian kecil, berarti kita tidak faham materi, ketika kita tidak faham materi, berarti usaha tidak maksimal, dan ketika usaha tidak maksimal, jalanganlah menyalahkan siapun, termasuk hanya sekedar mengirimkan  SMS/WA kepada dosen untuk menanyakan nilai, karna kita pasti sudah tau, apakah jawaban kita benar atau salah berdasarkan keyakinan dalam menjawab soal. Karna ujian kita adalah essai, bukan pilihan ganda.

Semoga bermanfaat

Dari,

Anak dusun yang bersyukur bisa kuliah
Muhammmad Riswan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar