Kisah Hantu Gerigap dan Gedong Irang
Sore itu langit
Arisan Gading cerah. Sungai musi tampak gagah, ia seperti ular raksasa yang meliak liuk membelah bumi andalas, siap
menyantap siapa saja yang mengarunginya. Sawah menghijau, menunggu masa panen
untuk menguning lalu kemudian menjadi surga bagi burung-burung pipit yang
menyantapnya. Jambu-jambu yang ranum siap menemui tuannya, anak-anak pulang
mengaji sedangkan orang tua mereka sibuk di ladang mengais rezeki.
Selepas mengaji
di langgar Bu Ustadzah. Seperti biasa, Ramadhan, Gusti, Novri dan Arif bersiap
untuk ritual setiap sorenya. Berbekal karung beras, mereka berangkat ke kebun.
Mencari kelapa-kelapa yang jatuh dari pohonnya untuk dijual kepada pengepul.
Jarak antara desa dan kebun yang dituju lumayan jauh, butuh setengah jam
berjalan kaki untuk sampai ketempat tujuan. Dengan sabar bocah-bocah itu
menyusuri jalan setapak, kadang berhenti sejenak untuk menarik nafas atau
sekedar menjahili salah satu diantara mereka.
Setengah jam kemudian
mereka sampai di perkebunan yang dituju. Kebun itu bukan milik mereka, entah
siapa tuannya. Kebiasaan di desa ini, buah yang jatuh dari pohonnya menjadi
milik siapa saja yang menemukannya. Seperti hukum tak tertulis dan menjadi
kesepakatan sejak dahulu kala.
Hari hampir
gelap ketika mereka sampai ke desa setelah mencari kelapa. Sebelum malam datang,
mereka bergegas menemui Bik Ciblek, pengepul berbagai macam sayur termasuk
kelapa. Satu biji kelapa dihargai lima ratus rupiah, harga yang lumayan jika
dikalikan dengan seluruh kelapa yang mereka hasilkan. Seribu rupiah untuk
setiap orang, dari hasil delapan kelapa dan dibagi empat orang. Cukup untuk
dibelikan model, kemplang, dan es atau sepaket layang-layang beserta benangnya.
Tepat sebelum
azan berkumandang, bocah-bocah itu sudah sampai di depan pintu rumah
masing-masing. Telat sedikit saja, hal tersebut bisa menjadi bahan marahan Mak
yang akan membuat suasana tegang satu malam seperti seribu malam. Pernah suatu
saat, Ramadhan pulang terlambat. Saat itu musim layang-layang, dia dan beberapa
temannya pergi ke desa sebelah untuk mengejar layang-layang yang putus.
Sepulang dari rumah, dia sudah di tunggu mak dan semalam suntuk mendengarkan
ocehan mak yang tak sudah memahari Ramadhan.
“mau jadi apa
kau ramadhan? Hah, ayam saja pulang ketika maghrib, ini kau masih keluyuran”
“ao Mak”, jawab
Ramadhan tertunduk
Malam itu, Ramadhan
hanya terdiam. Duduk di pojok ruangan tengah sambil memeluk lutut. Menyesali
ketidak disiplinan yang dia lakukan. Tapi malam ini berbeda, ia tidak lagi
telat pulang kerumah. Ya tidak pernah lagi telat setelah kejadian hari itu.
Selepas sholat
isya’, berbekal lampu miyak tanah, ramadhan dan hernita duduk di pangkuan mak.
Malam itu jadwal untuk mendengarkan cerita-cerita dari mak. Sebuah dongeng
tentang hantu gerigap dan kakak gedong tua.
Emak bercerita
bahwa suatu masa hiduplah dua orang akak beradik yang tinggal di sebuah rumah. Suatu
malam lampu di rumah mereka padam. Lalu kemudian sang kakak pergi berlayar
mencari api dan sang adik tinggal di rumah menunggu kakaknya. Ketika sang kakak
pergi, datanglah hantu gerigap ke rumah mereka
“gap gerigap,
rumah siapa ini cucung”
“rumah kakakku
gedong irang, pergi belayar minta api, dak balek-balek” jawab sang adik
“gap gerigap,
rumah siapa ini cucung” di ulangi sang hantu
“rumah kakakku
gedong irang, pergi belayar minta api, dak balek-balek” dijawab kembali oleh
sang adik.
Setelah sang
kakak kembali, ternyata adiknya tidak ada di rumah. Sebelumnya sang kakak sudah
berpesan kepada adiknya untuk tidak pergi ke mana-mana sebelum ia pulang,
bahkan jangan membukakan pintu untuk siapapun yang berada diluar kecuali ia
sudah pulang. Kang kakak kemudian mengibas-ngibaskan sapu lidi dirumahnya sambil
berdoa supaya adiknya segera ditemukan. Maka ketika mengibas-ngibaskan sapu
lidi, sang kakak mendapati adiknya sedang menangis duduk memeluk lutut di pojok
rumah. Setelahnya sang adik bercerita bahwa ketika kakaknya sedang pergi
berlayar, datanglah hantu gerigap di rumah itu. Sejak saat itu sang kakak tidak
akan pernah lagi meninggalkan adiknya sendirian.
Mak bercerita
dengan sabar dan penuh penghayatan. Termasuk setelahnya mengajarkan nilai-nilai
yang terkandung didalam dongeng tersebut. Bahwa seorang kakak harus menjaga
adiknya, jangan membiarkan adiknya sendiri dalam keadaan bahaya. Begitulah cara
mak mendidik anak-anaknya, melalui nilai-nilai kebaikan dari dongeng yang
berkembang di tengah masyarakat. Namun sayangnya, dongeng-dongeng tersebut saat
ini sudah musnah, hilang tanpa sempat diabadikan menjadi sebuah catatan di dalam
buku. Kalah dengan kemajuan zaman, anak-anak sekarang lebih memilih menonton
YouTube atau Instagram, melihat artis-artis yang mereka idolakan.
Begitulah
malam-malam di rumah kecil ujung desa itu. Dua anak dibesarkan dengan cerita berteman
lampu minyak hingga waktu tidur tiba. Selepas belajar atau mendengarkan cerita
dari mak, dua beradik itu ke belakang membasuh wajah yang hitam karena sawang
lampu minyak untuk kemudian terlelap dalam tidur. Tidak ada listrik apalagi
televisi. Semua serba sederhana dalam keterbatasan. Namun ibu yan cerdas selalu
memiliki cara terbaik dalam mendidik anaknya. Kelak dari rumah kecil diujung
desa itu, akan muncul pemimpin-pemimpin masa depan bangsa, membawa perubahan
untuk seluruh lapisan masyarakat. Ramadhan dengan kedalaman ilmunya dan Hernita
dengan keahlian bisnisnya.
Bersambung….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar