Menggapai Matahari #2


 Kisah Hantu Gerigap dan Gedong Irang

Sore itu langit Arisan Gading cerah. Sungai musi tampak gagah, ia seperti ular raksasa yang  meliak liuk membelah bumi andalas, siap menyantap siapa saja yang mengarunginya. Sawah menghijau, menunggu masa panen untuk menguning lalu kemudian menjadi surga bagi burung-burung pipit yang menyantapnya. Jambu-jambu yang ranum siap menemui tuannya, anak-anak pulang mengaji sedangkan orang tua mereka sibuk di ladang mengais rezeki.

Selepas mengaji di langgar Bu Ustadzah. Seperti biasa, Ramadhan, Gusti, Novri dan Arif bersiap untuk ritual setiap sorenya. Berbekal karung beras, mereka berangkat ke kebun. Mencari kelapa-kelapa yang jatuh dari pohonnya untuk dijual kepada pengepul. Jarak antara desa dan kebun yang dituju lumayan jauh, butuh setengah jam berjalan kaki untuk sampai ketempat tujuan. Dengan sabar bocah-bocah itu menyusuri jalan setapak, kadang berhenti sejenak untuk menarik nafas atau sekedar menjahili salah satu diantara mereka. 

Setengah jam kemudian mereka sampai di perkebunan yang dituju. Kebun itu bukan milik mereka, entah siapa tuannya. Kebiasaan di desa ini, buah yang jatuh dari pohonnya menjadi milik siapa saja yang menemukannya. Seperti hukum tak tertulis dan menjadi kesepakatan sejak dahulu kala. 

Hari hampir gelap ketika mereka sampai ke desa setelah mencari kelapa. Sebelum malam datang, mereka bergegas menemui Bik Ciblek, pengepul berbagai macam sayur termasuk kelapa. Satu biji kelapa dihargai lima ratus rupiah, harga yang lumayan jika dikalikan dengan seluruh kelapa yang mereka hasilkan. Seribu rupiah untuk setiap orang, dari hasil delapan kelapa dan dibagi empat orang. Cukup untuk dibelikan model, kemplang, dan es atau sepaket layang-layang beserta benangnya.

Tepat sebelum azan berkumandang, bocah-bocah itu sudah sampai di depan pintu rumah masing-masing. Telat sedikit saja, hal tersebut bisa menjadi bahan marahan Mak yang akan membuat suasana tegang satu malam seperti seribu malam. Pernah suatu saat, Ramadhan pulang terlambat. Saat itu musim layang-layang, dia dan beberapa temannya pergi ke desa sebelah untuk mengejar layang-layang yang putus. Sepulang dari rumah, dia sudah di tunggu mak dan semalam suntuk mendengarkan ocehan mak yang tak sudah memahari Ramadhan. 

“mau jadi apa kau ramadhan? Hah, ayam saja pulang ketika maghrib, ini kau masih keluyuran”

“ao Mak”, jawab Ramadhan tertunduk

Malam itu, Ramadhan hanya terdiam. Duduk di pojok ruangan tengah sambil memeluk lutut. Menyesali ketidak disiplinan yang dia lakukan. Tapi malam ini berbeda, ia tidak lagi telat pulang kerumah. Ya tidak pernah lagi telat setelah kejadian hari itu. 

Selepas sholat isya’, berbekal lampu miyak tanah, ramadhan dan hernita duduk di pangkuan mak. Malam itu jadwal untuk mendengarkan cerita-cerita dari mak. Sebuah dongeng tentang hantu gerigap dan kakak gedong tua. 

Emak bercerita bahwa suatu masa hiduplah dua orang akak beradik yang tinggal di sebuah rumah. Suatu malam lampu di rumah mereka padam. Lalu kemudian sang kakak pergi berlayar mencari api dan sang adik tinggal di rumah menunggu kakaknya. Ketika sang kakak pergi, datanglah hantu gerigap ke rumah mereka

“gap gerigap, rumah siapa ini cucung”

“rumah kakakku gedong irang, pergi belayar minta api, dak balek-balek” jawab sang adik

“gap gerigap, rumah siapa ini cucung” di ulangi sang hantu

“rumah kakakku gedong irang, pergi belayar minta api, dak balek-balek” dijawab kembali oleh sang adik. 

Setelah sang kakak kembali, ternyata adiknya tidak ada di rumah. Sebelumnya sang kakak sudah berpesan kepada adiknya untuk tidak pergi ke mana-mana sebelum ia pulang, bahkan jangan membukakan pintu untuk siapapun yang berada diluar kecuali ia sudah pulang. Kang kakak kemudian mengibas-ngibaskan sapu lidi dirumahnya sambil berdoa supaya adiknya segera ditemukan. Maka ketika mengibas-ngibaskan sapu lidi, sang kakak mendapati adiknya sedang menangis duduk memeluk lutut di pojok rumah. Setelahnya sang adik bercerita bahwa ketika kakaknya sedang pergi berlayar, datanglah hantu gerigap di rumah itu. Sejak saat itu sang kakak tidak akan pernah lagi meninggalkan adiknya sendirian.

Mak bercerita dengan sabar dan penuh penghayatan. Termasuk setelahnya mengajarkan nilai-nilai yang terkandung didalam dongeng tersebut. Bahwa seorang kakak harus menjaga adiknya, jangan membiarkan adiknya sendiri dalam keadaan bahaya. Begitulah cara mak mendidik anak-anaknya, melalui nilai-nilai kebaikan dari dongeng yang berkembang di tengah masyarakat. Namun sayangnya, dongeng-dongeng tersebut saat ini sudah musnah, hilang tanpa sempat diabadikan menjadi sebuah catatan di dalam buku. Kalah dengan kemajuan zaman, anak-anak sekarang lebih memilih menonton YouTube atau Instagram, melihat artis-artis yang mereka idolakan.

Begitulah malam-malam di rumah kecil ujung desa itu. Dua anak dibesarkan dengan cerita berteman lampu minyak hingga waktu tidur tiba. Selepas belajar atau mendengarkan cerita dari mak, dua beradik itu ke belakang membasuh wajah yang hitam karena sawang lampu minyak untuk kemudian terlelap dalam tidur. Tidak ada listrik apalagi televisi. Semua serba sederhana dalam keterbatasan. Namun ibu yan cerdas selalu memiliki cara terbaik dalam mendidik anaknya. Kelak dari rumah kecil diujung desa itu, akan muncul pemimpin-pemimpin masa depan bangsa, membawa perubahan untuk seluruh lapisan masyarakat. Ramadhan dengan kedalaman ilmunya dan Hernita dengan keahlian bisnisnya.

Bersambung….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar