Secerca Mimpi di Aliran Anak Sungai Musi
Matahari tampak
tersenyum di ujung timur, kokok ayam jantan yang telah terjaga
bersahut-sahutan, rutinitas kehidupan pun di mulai. Air sungai Musi mengalir
dengan tenang, menghanyutkan tumpukan-tumpukan eceng gondok yang tak melekat dengan
inangnya. Burung-burung beterbangan tak tentu arah ketika para petani datang ke
ladang padi. Ranum buah jambu yang siap dijual ke pasar dan wanginya bunga gading yang tumbuh diantara risan menjadi penanda permulaan hari.
Pagi itu, di ujung
desa yang damai, sebuah kehidupan mulai menemui harinya. Kesibukan di dapur
dengan uap yang mengepul diiringi tawa anak-anak menunggu waktu sarapan pagi.
Tak ada televisi, hanya sebuah radio usang yang lebih banyak mengeluarkan suara
bising tak jelas menemani makan pagi keluarga kecil nan bahagia itu.
Sementara di
belahan bumi lain, kebahagiaan menyelimuti penduduk Italia setelah negaranya
berhasil menjuarai piala dunia. Kemenangan yang menegangkan atas Perancis melalui
adu penalti dengan skor 5-3 setelah sebelumnya bermain imbang 1-1. Sementara Jerman
sebagai tuan rumah harus puas di posisi ketiga setelah berhasil menang atas Portugal
dengan skor 3-1.
Tahun 2006, Indonesia
mengalami perbaikan pada sisi ekonomi. Keberhasilan melewati berbagai tekanan
berat, kestabilan makro mulai dapat diatasi dengan baik. Inflasi yang terjaga
di angka 6,6% dan stabilitas kurs yang terjaga dengan kecenderungan menguat.
Ah apalah
gunanya piala dunia dan tingkat inflasi bagi keluarga kecil diujung kampung
itu. Mereka hanya tau bagaimana hari ini tetap bisa makan dengan baik. Esok
lusa ketika kehidupan membaik, pendidikan adalah hal yang wajib didapatkan oleh
anak-anaknya.
Hari itu
Ramadhan sudah merencanakan untuk mencari ikan di sungai bersama
teman-temannya. Novri, Gusti dan Arif sudah menunggu di depan rumah, siap
dengan ember dan tangguk untuk digunakan ngabal
ikan di sungai dekat rumah. Bermain di sungai memang menjadi kegiatan hari-hari
anak laki-laki di desa itu. Selain melatih berenang, mereka juga sambil mencari
ikan untuk digunakan sebagai lauk makan atau dijual ke tetangga dan uangnya
akan digunakan untuk sekedar beli es atau roti di sore harinya.
Selesai mencari
ikan, mereka pergi ke desa seberang untuk mencari balam. Balam atau biji karet
bagi anak-anak di kampung ini sering digunakan sebagai media permainan dengan
mengadu keduanya, siapa yang tidak pecah maka dialah yang menang.
“Rif kalo dapat
balam urat-urat bagi eh” bisik Ramadhan,
Sambil nyengir,
“enak saja, kau carilah sendiri” jawab Arif sambil meledek.
“Dasar KIP
(kecik, itam, pendek) pelit” ketus Ramadhan menjawab yang diikuti oleh gelak
tawa teman-teman yang lain. Arif memang yang paling kecil diantara mereka
sehingga sering menjadi korban olok-olok untuk sekedar mencairkan suasana.
Perjalanan
menuju kebuh karet memerlukan waktu satu jam jalan kaki. Ah anak-anak desa ini
memang terlatih untuk berjalan kaki dalam jarak yang jauh. Tak jarang juga mereka
harus berlari karna dikejar anjing atau mandi hujan ketika kehujanan di jalan
untuk kemungkian terus bermain sampai baju yang basah karna hujan kembali
menjadi kering.
Pagi itu bak dan
mak memilih berangkat ke sawah. Ada banyak padi yang harus ditanam. Tahun ini
lebih sulit dari biasanya. Air di sawah tada hujan mengering lebih cepat,
sehingga para petani harus bekerja lebih keras menyesuaikan dengan kondisi
alam. Belum lagi keterbatasan biaya untuk membeli obat hama, banyak petani yang
terjerat hutang kepada rentenir untuk keperluan sawah dan hidup sehari-hari. Beruntung
bak dan mak masih dikaruniai kesehatan oleh Tuhan, sehingga bisa bekerja dengan
maksimal. Tidak seperti tetangga sebelah yang hanya bisa bekerja dengan satu
tangan, karena tangan yang lainnya tak bisa digerakkan akibat kecelakaan kerja
beberapa tahun yang lalu.
Sawah yang
dikerjakan oleh mak dan bak merupakan sawah parohan. Parohan adalah sistem
pengolahan lahan yang lazim bagi masyarakat desa ini. Sawah akan dikerjakan
oleh orang lain dengan sistem bagi hasil. Sepertiga akan diberikan kepada
pemilik lahan dan sisanya menjadi hak petani yang mengerjakan lahan. Sawah yang dikerjakan oleh mak dan bak adalah sawah
nenek. Karena sudah berusia lanjut, maka nenek mempercayakan sawahnya kepada
kami untuk ditanam padi.
Di lain tempat,
Hernita, anak bungsu dari keluarga itu sedang bermain yeye dengan
teman-temannya. Usianya baru empat tahun dengan satu gigi ompong yang baru saja
tanggal. Anak-anak desa itu bermain dengan riang, belum ada penetrasi teknologi
seperti saat ini. Dimana anak-anak lebih sibuk dengan telepon pintarnya dan
mengurung diri didalam kamar sendirian.
Sore harinya
anak-anak akan mengaji di langgar milik seorang ustazah di desa itu.
“Siapa mau jadi
guru?” Tanya Bu Ustazah riang, hening tak ada yang menjawab. “Siapa mau jadi
polisi” Bu Ustadzah mengulagi pertanyaanya dan lagi-lagi hening, tak ada
jawaban. “Kalo presiden?”, “Saya bu”, jawab Ramadhan riang.
“saya mau jadi
Pesepakbola”, jawab Edi
“Huuu” sorak
anak-anak yang lain.
Hanya mengaji di
langgar itulah pendidikan yang bisa diakses oleh anak-anak yang belum memasuki
usia SD. Tak ada TK, Paud atau apalah namanya. Keterbatasan akses pendidikan,
terlebih keterbatasan perekonomian menjadi ujian bagi anak-anak di desa ini
untuk menggapai mimpi-mimpi masa depan yang lebih cerah.
Tahun-tahun itu,
menjadi awal mimpi perubahan hidup yang lebih baik. Dua kakak beradik dari
keluarga sederhana, memiliki mimpi yang besar, kelak dimasa depan menjadi
pemimpin negeri ini. Mengatasi segala permasalahan ekonomi yang membelit para
rakyat kecil. Membawa negeri ini menjadi negeri yang merdeka. Merdeka dalam
arti mampu berdiri diatas kaki sendiri, tak harus meminta minta bantuan dan
bergantung dengan bangsa lain. Pagi itu, sebuah mimpi masa kecil akan terus
tumbuh menagih janji-janji kehidupan yang lebih baik.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar