Menggapai Matahari #5

Bolos Sekolah

Pagi yang cerah untuk hari yang menyenangkan. Mak sudah berangkat ke parbik kemplang beberapa saat setelah sholat subuh, sedangkan Bak masih sibuk menyiapkan alat-alat untuk memanen padi. Sekarang sawah-sawah sudah memasuki musim panen, sejak tadi satu dua penduduk sudah mulai keluar rumah menuju sawah masing-masing. Musim tanam yang sulit, air mengering lebih cepat karena karna cuaca panas yang tinggi, hama tikus dan burung juga selalu mengintai padi-padi yang sudah menguning dan tertunduk, tanda siap untuk di panen. Pagi itu, dengan seragam rapi dan botol minung yang menggantung di bagian kiri tas, Ramadhan telah siap memulai sekolahnya.

Ramadhan tujuh tahun, baru beberapa hari memulai perjuangannya menimba ilmu di kelas dua sekolah dasar. Sedangkan adiknya baru lima tahun, selalu dititipkan ke embuk, kerena tidak ada orang yang tinggal di rumah. Embuk adalah sebutan lain untuk nenek. Seperti biasa, ia berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Jika tidak menemukan teman di jalan, Ramadhan akan mempercepat langkahnya hingga sampai ke sekolah lebih awal. Bila bertemu dengan rombongan anak-anak lain, ia akan berlajan bersama, menyusuri jalan setapak dan menikmati embun pagi yang sayup-sayup masih menempel di dedaunan. 

Setelah berjalan cukup jauh, ia akhirnya berjumpa dengan beberapa temannya yang masih duduk-duduk di pinggir jalan. Mereka menunggu Eman, anak kelas enam, salah satu ketua geng kecil itu. Ramadhan memutuskan untuk bergabung dengan rombongan mereka. Menunggu Eman yang ternyata bahkan belum mandi sama sekali, sedangkan hari sudah siang. Sebuah kegundahan dalam hati Ramadhan, ia yang biasa berangkat pagi hari ini terjebak didalam situasi tidak biasa. 

Sepuluh menit sebelum bel tanda masuk sekolah dibunyikan, rombongan kecil itu berangkat dari rumah Eman. Suatu kebiasaan yang buruk, karena jarak tempuh antara rumah Eman dan sekolah bisa mencapai lima belas menit, yang artinya, jika tidak berjalan dengan setengah berlari, maka mereka akan telat datang ke sekolah. Tapi memang dasarnya mereka anak-anak bandel, hari itu ternyata mereka sengaja merencanakan untuk datang terlambat dan bolos sekolah. Mereka berjalan dengan santai dan sampai di sekolah sepuluh menit setelah bel tanda masuk dibunyikan.

Ramadan yang berada dalam rombongan itu hanya bisa manut, mengikuti teman-teman lain yang lebih besar. Karena terlambat, mereka akhirnya pergi ke warung Bi Eem, disana terdapat bilyard, kartu remi, dan meja yang cukup untuk duduk-duduk santai. Tempat yang biasa dipakai untuk melarikan diri dari sekolah.

Pagi itu, mereka bermain ba’ungan. Ba’ungan adalah salah satu permainan tradisional yang sebenarnya mengandung unsur judi didalamnya. Permainan ini menggunakan uang logam yang dilempar ke sudut dinding. Setiap orang berhak melempar sekali uang logam, dan lemparan yang paling mendekati dinding berhak untuk melakukan undian koin. Setiap orang berhak menebak apakah sisi uang atau garuda yang akan muncul dari undian tersebut, sehingga yang berhasil menebak dengan benar akan menjadi pemenangnya. Kenapa mengandung unsur judi? karena permainan ini biasanya diikuti oleh taruhan dengan uang. Ah masih kecil saja sudah hebat bermain judi, entah esok atau lusa, bagaimana kondisi negeri ini.

Setelah selesai dari warung Bi Eem, Eman dan kawan-kawannya, tentu saja ada Ramadhan di sana, pulang menyusuri jalan yang berbeda. Mereka mengambil jalur yang biasa dilewati saat mencari buah kelapa. Berenang menyebrang sungai, masuk semak-semak demi satu biji kelapa, dan tentunya memanjat pohon jambu biji untuk mengganjal perut yang lapar. Wahai, bagian ini sangat tidak layak untuk diteladai, tidak hanya bolos, anak-anak itu juga mencuri jambu biji dari kebun yang entah siapa pemiliknya.

Anak-anak itu belum saja pulang, hingga matahari tepat berada di atas kepala. Hal ini menjadi kekhawatiran Mak, karena Ramadhan yang masih kelas dua sekolah dasar mestinya sudah pulang pukul 10.30 tadi. Anak-anak itu, melanjutkan kenakalannya dengan mandi di sungai. Tentu saja hal tersebut merupakan hal yang biasa bagi penduduk sekitar, mandi, ngabal, nyuci dan segala jenis aktivitas lainnya adalah hal yang lumrah pagi penduduk tepian sungai. Namun kali ini berbeda, disana ada Ramadhan, anak kelas dua SD yang masih menggunakan seragam merah putih lengkap dengan dasi dan topinya. 

Selepas dari sungai, anak-anak itu kembali ke rumah masing-masing. Ramadhan dengan pakayaian yang berantakan, ternyata sudah ditunggu oleh mak didepan pintu.

“kau dari mana? kok sekarang baru pulang” Tanya Mak ketus
Dengan muka tegang, “dari mandi di sungai mak”, ramadhan hanya menunduk, tak berani menatap wajah mak
“Kau tau kan kalau cuman punya satu seragam sekolah?, kalau ini kotor, besok mau pakai seragam apa?” jawab Mak dengan sabar, “besok-besok kalau pulang sekolah, ganti dulu seragam itu dengan baju lain, baru kau boleh main kemana-mana”
“Ao mak”, jawab ramadhan lega. Hari ini ia tak dimarahi oleh mak, hanya saja, pengalaman bolosnya hari ini akan selalu menjadi penyesalan. 

Tidak seharusnya hari itu ia bolos, karena pendidikan itu terlalu mahal untuk di sia-siakan. Baju, uang jajan, tenaga, waktu dan tentu saja kesempatan merupakan harga dari sekolah. Manusia yang rasional tidak akan menyia-nyiakan barang yang ia beli dengan harga mahal hanya untuk dibuang. Begitupun siswa yang rasional tak akan menyiakan kesempatan sekolah yang didapatkannya. Ah pemuda hari ini sungguh berbeda, ada yang memiliki kesempatan kuliah di perguruan tinggi, dan lebih banyak lagi mereka yang tak memilikinya. Dari sekian pelajar yang katanya pembelajar itu, ternyata banyak sekali yang menganggap remeh kesempatan mengenyam pendidikan, misalnya dengan bolos lalu pergi ke kafe, atau berharap dosen tidak masuk ke kelas lalu bebas berkeluyuran kemana-mana. Ada juga yang mengeluh karena dosen memberikan tugas terlalu banyak, ya kalau kalian tidak mau repot, mending tidak usah kuliah sama sekali.

Hari ini menjadi kali pertama juga hari terakhi Ramadhan bolos dari sekolah karna alasan tidak jelas. Pesan Mak tertanam kuat didapam hatinya, pendidikan itu bukan tentang yang tampak di mata, seperti seragam yang bagus, tas dan sepatu baru, atau kendaraan antar jemput, tetapi lebih kepada kesungguhan niat dalam menuntut ilmu dan keteguhan hati dalam menjalaninya.
Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar