Bolos Sekolah
Pagi yang cerah untuk hari yang menyenangkan. Mak
sudah berangkat ke parbik kemplang beberapa saat setelah sholat subuh,
sedangkan Bak masih sibuk menyiapkan alat-alat untuk memanen padi. Sekarang
sawah-sawah sudah memasuki musim panen, sejak tadi satu dua penduduk sudah
mulai keluar rumah menuju sawah masing-masing. Musim tanam yang sulit, air
mengering lebih cepat karena karna cuaca panas yang tinggi, hama tikus dan
burung juga selalu mengintai padi-padi yang sudah menguning dan tertunduk,
tanda siap untuk di panen. Pagi itu, dengan seragam rapi dan botol minung yang
menggantung di bagian kiri tas, Ramadhan telah siap memulai sekolahnya.
Ramadhan tujuh tahun, baru beberapa hari memulai
perjuangannya menimba ilmu di kelas dua sekolah dasar. Sedangkan adiknya baru
lima tahun, selalu dititipkan ke embuk, kerena tidak ada orang yang tinggal di
rumah. Embuk adalah sebutan lain untuk nenek. Seperti biasa, ia berangkat
sekolah dengan berjalan kaki. Jika tidak menemukan teman di jalan, Ramadhan
akan mempercepat langkahnya hingga sampai ke sekolah lebih awal. Bila bertemu
dengan rombongan anak-anak lain, ia akan berlajan bersama, menyusuri jalan
setapak dan menikmati embun pagi yang sayup-sayup masih menempel di dedaunan.
Setelah berjalan cukup jauh, ia akhirnya berjumpa
dengan beberapa temannya yang masih duduk-duduk di pinggir jalan. Mereka
menunggu Eman, anak kelas enam, salah satu ketua geng kecil itu. Ramadhan
memutuskan untuk bergabung dengan rombongan mereka. Menunggu Eman yang ternyata
bahkan belum mandi sama sekali, sedangkan hari sudah siang. Sebuah kegundahan
dalam hati Ramadhan, ia yang biasa berangkat pagi hari ini terjebak didalam
situasi tidak biasa.
Sepuluh menit sebelum bel tanda masuk sekolah
dibunyikan, rombongan kecil itu berangkat dari rumah Eman. Suatu kebiasaan yang
buruk, karena jarak tempuh antara rumah Eman dan sekolah bisa mencapai lima
belas menit, yang artinya, jika tidak berjalan dengan setengah berlari, maka
mereka akan telat datang ke sekolah. Tapi memang dasarnya mereka anak-anak bandel,
hari itu ternyata mereka sengaja merencanakan untuk datang terlambat dan bolos
sekolah. Mereka berjalan dengan santai dan sampai di sekolah sepuluh menit
setelah bel tanda masuk dibunyikan.
Ramadan yang berada dalam rombongan itu hanya bisa
manut, mengikuti teman-teman lain yang lebih besar. Karena terlambat, mereka
akhirnya pergi ke warung Bi Eem, disana terdapat bilyard, kartu remi, dan meja
yang cukup untuk duduk-duduk santai. Tempat yang biasa dipakai untuk melarikan
diri dari sekolah.
Pagi itu, mereka bermain ba’ungan. Ba’ungan adalah
salah satu permainan tradisional yang sebenarnya mengandung unsur judi
didalamnya. Permainan ini menggunakan uang logam yang dilempar ke sudut
dinding. Setiap orang berhak melempar sekali uang logam, dan lemparan yang
paling mendekati dinding berhak untuk melakukan undian koin. Setiap orang
berhak menebak apakah sisi uang atau garuda yang akan muncul dari undian
tersebut, sehingga yang berhasil menebak dengan benar akan menjadi pemenangnya.
Kenapa mengandung unsur judi? karena permainan ini biasanya diikuti oleh
taruhan dengan uang. Ah masih kecil saja sudah hebat bermain judi, entah esok
atau lusa, bagaimana kondisi negeri ini.
Setelah selesai dari warung Bi Eem, Eman dan
kawan-kawannya, tentu saja ada Ramadhan di sana, pulang menyusuri jalan yang
berbeda. Mereka mengambil jalur yang biasa dilewati saat mencari buah kelapa.
Berenang menyebrang sungai, masuk semak-semak demi satu biji kelapa, dan
tentunya memanjat pohon jambu biji untuk mengganjal perut yang lapar. Wahai,
bagian ini sangat tidak layak untuk diteladai, tidak hanya bolos, anak-anak itu
juga mencuri jambu biji dari kebun yang entah siapa pemiliknya.
Anak-anak itu belum saja pulang, hingga matahari tepat
berada di atas kepala. Hal ini menjadi kekhawatiran Mak, karena Ramadhan yang
masih kelas dua sekolah dasar mestinya sudah pulang pukul 10.30 tadi. Anak-anak
itu, melanjutkan kenakalannya dengan mandi di sungai. Tentu saja hal tersebut
merupakan hal yang biasa bagi penduduk sekitar, mandi, ngabal, nyuci dan segala
jenis aktivitas lainnya adalah hal yang lumrah pagi penduduk tepian sungai.
Namun kali ini berbeda, disana ada Ramadhan, anak kelas dua SD yang masih
menggunakan seragam merah putih lengkap dengan dasi dan topinya.
Selepas dari sungai, anak-anak itu kembali ke rumah
masing-masing. Ramadhan dengan pakayaian yang berantakan, ternyata sudah ditunggu
oleh mak didepan pintu.
“kau dari mana? kok sekarang baru pulang” Tanya Mak
ketus
Dengan muka tegang, “dari mandi di sungai mak”, ramadhan
hanya menunduk, tak berani menatap wajah mak
“Kau tau kan kalau cuman punya satu seragam sekolah?,
kalau ini kotor, besok mau pakai seragam apa?” jawab Mak dengan sabar,
“besok-besok kalau pulang sekolah, ganti dulu seragam itu dengan baju lain, baru
kau boleh main kemana-mana”
“Ao mak”, jawab ramadhan lega. Hari ini ia tak
dimarahi oleh mak, hanya saja, pengalaman bolosnya hari ini akan selalu menjadi
penyesalan.
Tidak seharusnya hari itu ia bolos, karena pendidikan
itu terlalu mahal untuk di sia-siakan. Baju, uang jajan, tenaga, waktu dan
tentu saja kesempatan merupakan harga dari sekolah. Manusia yang rasional tidak
akan menyia-nyiakan barang yang ia beli dengan harga mahal hanya untuk dibuang.
Begitupun siswa yang rasional tak akan menyiakan kesempatan sekolah yang
didapatkannya. Ah pemuda hari ini sungguh berbeda, ada yang memiliki kesempatan
kuliah di perguruan tinggi, dan lebih banyak lagi mereka yang tak memilikinya. Dari
sekian pelajar yang katanya pembelajar itu, ternyata banyak sekali yang
menganggap remeh kesempatan mengenyam pendidikan, misalnya dengan bolos lalu
pergi ke kafe, atau berharap dosen tidak masuk ke kelas lalu bebas berkeluyuran
kemana-mana. Ada juga yang mengeluh karena dosen memberikan tugas terlalu
banyak, ya kalau kalian tidak mau repot, mending tidak usah kuliah sama sekali.
Hari ini menjadi kali pertama juga hari terakhi
Ramadhan bolos dari sekolah karna alasan tidak jelas. Pesan Mak tertanam kuat
didapam hatinya, pendidikan itu bukan tentang yang tampak di mata, seperti
seragam yang bagus, tas dan sepatu baru, atau kendaraan antar jemput, tetapi
lebih kepada kesungguhan niat dalam menuntut ilmu dan keteguhan hati dalam
menjalaninya.
Bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar