IMPOR BERAS (LAGI), ADA APA DENGAN INDONESIAKU?


Muhammad Riswan
Ekonomi Pembangunan



Neraca berjalan atau current account adalah salah satu komponen neraca pembayaran yang menggambarkan selisih nilai ekspor dan impor, termasuk barang dan jasa. Dalam perhitungannya, current account akan menunjukkan apakah nilai ekspor impor suatu negara surplus atau defisit. Jika nilai ekspor lebih besar, maka nilai current account akan surplus, dan begitupun sebaliknya.
Kondisi current account akan sangat berpengaruh terhadap nilai tukar mata uang dalam negri terhadap mata uang asing. Jika current account defisit, maka permintaan akan mata uang lokal akan lebih sedikit karna mata uang asing lebih banyak diperlukan untuk membayar barang yang dibeli dari luar negri dan akibatnya nilai tukar mata uang dalam negri pun melemah. Sedangkan jika kondisi current account surplus, permintaan akan mata uang lokal akan bertambah karena negara lain harus membeli produk yang dibeli dengan mata uang lokal sehingga nilai tukar mata uang lokal akan meningkat.
Akhir-akhir ini, current account Indonesia berada di kondisi yang cukup mengenaskan. Current account kita tercatat berada diangka minus 8 milyar Dollar. Hal ini kemudian menjadi salah satu faktor utama terdepresiasinya nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh angka Rp15.000 per US Dollar.
Alih-alih memperbaiki kondisi current account demi menyelamatkan nilai tukar rupiah, kini pemerintah kembali membuat kebijakan kontroversial. Teater kebijakan impor beras kembali ditampilkan oleh Mentri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Sementara itu, perum Bulog melalui Direktur Utamanya, Budi Waseso sudah memberikan konfrensi pers bahwa gudang Bulog penuh, apalagi banyak beras impor digudang Bulog yang tidak digunakan sama sekali, bahkan beras-beras itu sudah ada yang mengalami turun mutu akibat terlalu lama disimpan.  
Dari kondisi ini kita dapat melihat bagaimana keberpihakan pemerintah, apakah kepada para petani atau kepada para pemburu rente. Keadaan yang aneh ini cukup menjadi bukti bahwa rezim yang sedang berkuasa saat ini nampaknya tidak cukup memiliki keberanian untuk melawan para pemburu rente dan kekuasaan untuk berkata ‘tidak’ pada mereka. Rezim ini seakan linglung dengan janjinya untuk menolak impor pangan, linglung dengan tugasnya untuk melindungi rakyat kecil, dan linglung bahwa kebijakan ini akan di cap oleh rakyat sebagai kebijakan terbodoh yang pernah ada pada rezim ini.
Kebijakan blunder ini akan berakibat panjang dan menjadi kenangan ‘terindah’ untuk rezim yang sedang berkuasa. Pendapatan petani akan turun karna supply beras meningkat dan harga akan turun. Impor ini pun akan memperparah kondisi current account dan pada akhirnya ikut andil dalam menenggelamkan nilai tukar rupiah. Sungguh ada apa dengan Indonesiaku? 


Tulisan ini dibuat oleh mahasiswa ekonomi pembangunan semester tiga, tentu masih banyak kekurangan dan kesalahan disana-sini, maka dari itu penulis berharap saran dan koreksi dari para pembaca yang budiman.

Oh Rupiahku, Nasibmu Kini



Muhammad Riswan
Ekonomi Pembangunan 2017

Akhir-akhir ini rakyat disibukkan dengan isu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar yang menembus angka Rp15.000 per US dollar. Banyak kalangan mengutarakan kekhawatirannya terhadap efek melemahnya nilai tukar rupiah terhadap berbagai bidang perekonomian, mulai ancaman kenaikan harga hingga penggemukan hutang luar negri. Disisi lain, banyak juga yang berpendapat bahwa keadaan rupiah ini tidak sepatutnya dikhawatirkan, dan menggelari orang-orang yang berkomentar sebagai ekonom baru. Lalu apa yang sebernarnya terjadi terhadap rupiah, penyebab, dampak dan solusi yang harus diambil.
            Setiap harga suatu komoditi tentu dipengaruhi oleh demand dan supply dari komoditi tersebut, begitupun terhadap valuta asing. Nilai tukar dollar tentu dipengaruhi oleh demand dan supply dollar. Demand terhadap dollar dipengaruhi oleh impor, capital flight, speculative activity, serta intervensi dari bank sentral. Sedangkan supply terhadap dollar dipengaruhi oleh ekspor, capital inflow,speculative activity, dan intervensi bank sentral.
            Disisi ekspor dan impor, current account Indonesia mengalami defisit sebesar $8 billion, hal ini mendorong demand terhadap dollar dan kemudian melemahkan nilai tukar rupiah. Defisit neraca berjalan salah satunya disebabkan oleh kebijakan impor tidak jelas yang dilakukan oleh pemerintah. Impor beras ketika petani panen padi, dan impor garam sedangkan separuh wilayah Indonesia adalah lautan. Andai saja pemerintah tidak membuat kebijakan impor yang aneh, mungkin saja kondisi current account Indonesia tidak akan separah ini.
            Disisi capital inflow dan outflow, kebijakan pemerintah yang menumpuk hutang dengan dalih pembangunan kini mulai memberikan dampak negatif (walaupun menurut ekonom senior Prof. Rizal Ramli bahwa hutang Indonesia didominasi untuk penggunaan belanja pegawai, bukan pembangunan infrastruktur). Hutang yang dibawa masuk oleh pemerintah kedalam negri tersebut mulai mewajibkan kita untuk membayar bunganya dan bahkan hutang yang jatuh tempo. Kebutuhan akan dollar untuk membayar hutang inilah yang menguatkan demand terhadap dollar dan pada akhirnya melemahkan nilai tukar rupiah.
            Kita boleh saja menambah hutang, asalkan current account kita surplus dan surplus itu minimal cukup untuk memenuhi kebutuhan pembayaran hutang yang rutin dibayar oleh pemerintah. Namun sayangnya, current account kita devisit dan bahkan kita diwajibkan untuk membayar bunga hutang dan hutang jatuh tempo, sehingga demand terhadap dollar meningkat tajam. Hal inilah yang menyebabkan tergerusnya nilai tukar rupiah.
            Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar tentu memberikan dampak yang signifikan terhadap bangsa ini. Hutang Indonesia yang dihitung dengan satuan dollar tentu akan semakin membengkak, dan kewajikan kita untuk membayar bunga dan pokok hutang akan semakin berat. Harga-harga barang tentu akan meningkat, mengingat beberapa produk berasal daari impor, dan bahkan beberapa faktor input pun diimpor dari luar negri. Paling sederhana adalah harga tempe dan telor, kedelai yang menjadi bahan utama tempe diimpor dari Amerika dan pakan ternak untuk ayam petelor juga kita impor, hal ini tentu akan menyababkan kenaikan harga pada barang-barang ini dan barang barang lain yang terkait. Maka dapat kita simpulkan bahwa pendapat yang mengatakan depresiasi rupiah tidak akan berdampak terhadap ekonomi rakyat kecil adalah omong kosong.
            Lalu apa yang harus dilakukan demi menyelamatkan rupiah?. Adapun depresiasi rupiah disebabkan karna meningkatnya demand terhadap dollar, maka yang harus kita lakukan adalah menurunkan demand terhadap dolaar dan menguatkan supply terhadap dollar. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam jangka pendek adalah : mengurangi ketergantungan terhadap portopolio asing dan beralih ke pembiayaan domestik untuk menutupi defisit APBN; merestrukturisasi ekspor dari bahan menta ke barang jadi atau setengah jadi; dan mengembangkan industri hilir. Semua kebijakan ini akan berimpikasi pada menurunnya hutang dan memperbaiki keadaan current account Indonesia dan pada akhirnya dapat menguatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Adapun hal yang harus dilakukan dalam jangka panjang adalah mengontrol inflasi pada tingkat rendah; meningkatkan produktivitas dan memaksimalkan peluang ekspor; serta stabilitas ekonomi dan politik nasional. Sedangkan yang dapat kita lakukan sebagai warga negara adalah : menjual foregn assest yang kita miliki lalu membeli currency kita sendiri dan membeli produk-produk produksi dalam negri yang memungkinkan.
            Pada kesimpulannya, tergerusnya nilai tukar rupiah ini adalah blunder dari kebijakan pemerintah yang menumpuk hutang luar negri dan kebijakan impor yang tidak jelas. Maka dari itu, pemerintah sebaiknya menahan diri untuk tidak menambah hutang konsumtif kemudian menahan impor yang tidak perlu, serta berupaya memperbaiki current account Indonesia. Maka, Siapapun kita, baik pendukung pemerintah ataupun oposisi, harus kita akui saat ini rupiah sedang tidak baik-baik saja, dan mari bekerjasama untuk memperbaikinya.

Tulisan ini dibuat oleh mahasiswa ekonomi pembangunan semester tiga, tentu masih banyak kekurangan dan kesalahan disana-sini, maka dari itu penulis berharap saran dan koreksi dari para pembaca yang budiman.
           

Semangat Tahun Baru, Semangat Perubahan

TAHUN BARU, MOVE ON YUK!!!
Muhammad Riswan
Kebijakan Publik KAMMI AL QUDS UNSRI
Ekonomi Pembangunan 2017



“Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  meninggalkan rumah pada malam hari tanggal 27 Shafar tahun 14 nubuwah menuju rumah rekan sejatinya, Abu Bakar Radhiyallahu Anhu, lalu berdua mereka meninggalkan rumah dari pintu belakang untuk keluar dari Mekkah secara tergesa-gesa sebelum fajar menyingsing. (Al-Mubarakhfury, 2007)

Hampir 14 abad telah berlalu, suatu fakta sejarah yang sampai saat ini membekas dan menanamkan semangat perjuangan serta perubahan pada pribadi setiap muslim. Suatu perjalanan menuju perubahan yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam  dan para sahabat, meninggalkan harta dan tanah kelahiran demi satu tujuan yaitu hidup yang lebih baik dalam naungan islam. Kini, kita memperingati nafas semangat itu dalam tahun baru Hijriah, suatu momen yang harus dimaksimalkan oleh setiap muslim untuk menghitung diri lalu bertransformasi menjadi lebih baik. 

Tahun baru adalah awal baru, laksana seorang anak sekolah yang mengawali tahun ajaran baru dengan buku dan seragam baru, seorang muslim juga harus mengawali tahun baru dengan semangat dan dunia baru. Dunia baru yang lebih baik, lebih teratur, dan lebih islami. Sehingga seorang muslim dapat menjadikan dirinya sebagai pribadi yang beruntung, dimana hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini.

            Tahun baru merupakan  momentum untuk “move on” dari berbagai permasalahan dan aktivitas yang menghabiskan waktu dan tenaga, namun tidak memberikan kebermanfaatan terhadap perkembangan diri. Meninggalkankan segala kegalauan yang selama ini membenam dihati menuju kehidupan yang lebih optimis, optimis dalam menghadapai masa depan dan tantangan baru. Sehingga momen tahun baru dapat menjadi momentum perubahan demi menjadikan diri ini lebih baik dan lebih berharga. 
Tahun baru juga merupakan momentum untuk “move up”. Move up dari zona nyaman menuju zona yang lebih menantang. Mengurangi “me time” yang non-produktif dan mengubahnya menjadi “our time” yang lebih produktif. Our time yang sudah seharusnya digalakkan dan diisi oleh aktivitas bersama yang mampu membawa diri ini move up menuju level yang lebih tinggi, yaitu manusia muslim yang bermartabat dan berprestasi.  

Maka, mari kita maknai tahun baru ini sebagai momentum perubahan. Momentum untuk move on and move up yang akan mengantarkan diri ini menjadi pribadi tangguh dan bermartabat. Yuk berubah, berubah jadi lebih  baik.  Semangat perubahan, semangat perbaikan