Menggapai Matahari #3


SD Muhammadiyah atau SD Negeri

Pukul setengah lima subuh. Desa Arisan Gading lengang dan sunyi. Sayup-sayup terdengar suara mengaji diantara rumah-rumah penduduk, setelahnya nyanyian jangkrik sang saling saut menyaut. Di rumah kecil ujung desa itu, Ramadhan dan adiknya sudah bangun dan memulai harinya. Duduk di depan lampu minyak, memegang iqro’ bersama adik menunggu waktu sholat subuh tiba. Sementara di depan rumah, bak sibuk menyiapkan peralatan yang akan dibawa ke sawah hari ini. 

Selepas azan subuh berkumandang, penghuni rumah kecil di ujung desa itu khusyuk melangitkan doa-doa. Berharap atas kehidupan yang lebih baik dimasa depan. Ramadhan enam tahun, adiknya empat tahun. Sebentar lagi memasuki tahun ajaran baru, sudah saatnya Ramadhan memulai pendidikan di sekolah dasar. Maka hari-hari keluarga itu mulai diisi dengan berbagai kesibukan, dari Ramadhan dan adiknya yang mulai belajar menulis dan mengenal huruf hingga mak dan bak yang sibuk mengerjakan apa saja demi mendapatkan tambahan pendapatan untuk membeli seragam sekolah.

Ramadhan sedang duduk dibawah pohon kedondong taklaka Pak Kamil, kepala sekolah SD Muhammadiyah desa itu datang. Pak Kamil masih terhitung keluarga jauh bak, selain sebagai guru, beliau juga dikenal sebagai pemuka adat Desa Arisan Gading. Hari itu Pak Kamil datang menawarkan Ramadhan untuk sekolah di SD Muhammadiyah yang dipimpinnya. Sebuah tawaran yang istimewah, karena datang langsung dari kepala sekolahnya. 

Kelurga Ramadhan sejak dulu memang memiliki garis Muhammadiyah tulen. Secara turun temurun, dari kakek buyutnya, lalu dilanjutkan oleh kakeknya dan sekarang Pak Kamil menjadi pengurus cabang Muhammadiyah Arisan Gading. Rumahnya pun tak jauh dari masjid dan sekolah Muhammadiyah. Menjadi suatu kebanggaan bagi kelurga kecil ini untuk tetap menyekolahkan anak-anaknya di perguruan Muhammadiyah. 

Namun, kenyataan bahwa keluarga itu memiliki keterbatasan perekonomian menjadi kendala terbesar untuk mendapatkan akses pendidikan yang diimpikan. Hasil sawah hanya cukup untuk kebutuhan makan selama setahun. Pun jika dijual sebagian, nantinya di akhir tahun maka keluarga ini harus membeli beras untuk menutupi sebagian yang telah dijual. Disisi lain, pendapatan mak dari bekerja di pabrik kemplang hanya mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Sedangkan tabungan yang dikumpulkan oleh Ramadhan tidak dapat banyak membantu, hanya cukup untuk membeli buku, pensil, dan penggaris.

Malam itu, berteman dengan lampu minyak, keluarga kecil di ujung desa itu bahkan belum memiliki keputusan, apakah Ramadhan akan masuk sekolah ditahun ini atau tahun depannya lagi. Seperti biasa, ditengah keterbatasan malam, Ramadhan dan adiknya tetap dengan penuh semangat belajar apa saja yang di ajakarkan oleh Mak, di bawah lampu minyak, di tengah ruangan kecil berbentuk kubus dari kayu itu. 

Malam ini Mak bercerita tentang kisah dua kakak beradik dan buah puar. Kisah ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga amanah, jujur dan bertanggung jawab. Ah Mak selalu punya cara dalam mendidik anaknya. Melalui dongeng-dongen penghantar tidur, Mak menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada Ramadhan dan adiknya. Nilai yang semakin kesini semakin langka ditemui pada anak-anak yang memiliki gelar terdidik. Berkata dan berpilaku jujur misalnya, hanya menjadi sebuah teori yang dihafal ketika masa-masa ujian sekolah tiba, tak dipraktekkan. Semuanya mementingkan nilai, bukan proses, apalagi kejujuran sebagai harga diri yang harus dijaga sepenuhnya.

Kabar Ramadhan akan masuk sekolah tahun ini rupanya sampai ke Wak Sia. Wak Sia adalah pemilik pabrik kemplang tempat Mak bekerja. Ia masih terhitung keluarga jauh dari sebelah Bak. Siang itu, selepas Mak menyelesaikan perkerjaannya membuat kemplang, Wak Sia mengajaknya masuk ke rumah. Ada beberapa seragam sekolah anaknya yang tidak dipakai lagi, juga seperangkat dasi dan topi. Wak Sia menawarkan Mak untuk membawa saja seragam itu, siapa tau pas sehingga bisa dipakai untuk Ramadhan sekolah. 

Seragam pemberian Wak Sia adalah seraman merah putih. Ya sekolah negeri, bukan sekolah Muhammadiyah yang ditawarkan oleh Pak Kamil sebelumnya. Bagi Ramadhan, apalah artinya sekolah Muhammadiyah atau sekolah negeri. Hal paaling penting menurutnya bisa bersekolah saja sudah menghadirkan kebahagiaan tak terkira. Walapun lokasi sekolah itu lumayan jauh, di kampung sebelah. Bukakankah anak-anak di desa ini sudah terbiasa berjalan kaki jauh?. Bukan masalah yang serius bagi Ramadhan. Apa susahnya berjalan kaki, bukankah yang ia tuju adalah ilmu, sesuatu yang selama ini sangat diinginkannya.

Seragam merah-putih, dengan dasi dan topi, plus tas serta sepatu ala kadarnya sudah cukup untuk memulai sekolah. Semuanya bukan barang baru, tapi tetap terasa baru bagi Ramadhan. Ya baru, karena inilah kali ia pertama memilki seragam tersebut. Mak selalu mengajarkan, pendidikan itu bukan tentang yang tampak di mata, seperti seragam yang bagus, tas dan sepatu baru, atau kendaraan antar jemput, tetapi lebih kepada kesungguhan niat dalam menuntut ilmu dan keteguhan hati dalam menjalaninya.

Setelah hari ini, SDN 06 Indralaya Selatan akan menjadi taman ilmu, tempat dimana Ramadhan bermain dan belajar menjadi manusia yang memanusiakan manusia. Di sekolah ini mimpi pendidikan itu bermula. SD inpres di seberang desa, tak ada perpustakaan apalagi komputer. Hanya petak-petak kelas, dengan guru serba bisa yang mengajarkan semua mata pelajaran. 

Bersambung...

1 komentar:

  1. Kirain pakai bahasa Arisan Gading wkwwk, tapi bagus kk. Lanjutkan!!!

    BalasHapus